Aik Nyet Lombok: Perpaduan Wisata Hutan dan Kearifan Masyarakat

Vote Us

Tadinya saya nyaris pangling, ketika banyak yang upload foto taman wisata alam Aik Nyet, Lombok Barat. Kapan berubah jadi se-kece itu? Saya terakhir kali kesana di tahun 2015, masih belum banyak yang berubah. Jalanan masih tanah. Tak ada sign cantik di pintu masuk. Pondok dagang kaki lima pun masih belum tertata rapi. Setelah bertanya, saya baru tahu bahwa renovasi Aik Nyet baru-baru saja dilakukan, awal tahun 2016. Wisata Lombok memang terus berbenah.

Foto lama: free jumping. Bagian aliran sungai di jalan masuk yang berbatasan dengan pinggir kampung.

Foto lama: free jumping. Bagian aliran sungai di jalan masuk yang berbatasan dengan pinggir kampung.

Yang jelas Aik Nyet bukan sekedar tempat wisata alam. Fyi, Aik Nyet yang menjadi bagian dari kawasan hutan Sesaot adalah kawasan penyedia air, terutama bagi Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Sumber air PDAM berasal dari kawasan hutan ini. Kawasan Aik Nyet juga menjadi semacam “control zone” that is way di beberapa spot khusus sekitar sungai dipasangi alat ukur debit dan kualitas air. Iya, kondisi air di kawasan ini memang menjadi semacam kontrol kualitas hutan. Dengan status “pulau kecil” Lombok memang cukup rentan terhadap perubahan alam. *eaaaa..kok jadi serius gini.

Foto lama: kegiatan pemasangan alat di salah satu bagian sungai Aik Nyet.

Foto lama: kegiatan pemasangan alat di salah satu bagian sungai Aik Nyet.

Lokasi hutan wisata Aik Nyet tidak jauh dari Kota Mataram. Cukup 30-45 menit dengan kendaraan roda dua. Memasuki kawasan Wisata Sesaot, kita langsung disambut oleh suasana hijau dan sejuk. Dulunya, untuk sampai ke bawah (read: sungai/kolam pemandian) butuh sedikit perjuangan soft trekking. Sekarang sudah ada jalur pejalan kaki yang apik dan tentunya instagramable. Asik.

That entry sign to Aik Nyet. A must photo spot.

That entry sign to Aik Nyet (Taken by Arya)

 

Yuhuuu jalan setapak! (Taken by Indra):

Yuhuuu jalan setapak! (captured by Indra)

Bayangkan saja berjalan di antara pepohonan hijau yang menjulang dengan ditemani gemericik air sungai.

There, you find peace.

Di sepanjang aliran sungai juga banyak bebatuan khas sungai yang bisa jadi pijakan kalau nggak mau basah-basahan. Kawasan ini juga seringkali jadi tempat menginap a.k.a berkemah Diksar Pramuka atau pecinta alam.

A walk (captured by Indra).

A walk (captured by Indra).

Green everywhere! (Captured by Indra)

Green everywhere! (Captured by Indra)

Kolam pemandian Aik Nyet yang ngehits berasal dari bagian sungai yang dibendung. Enam pancuran di kolam tersebut adalah mata air yang konon tak pernah berhenti mengalir sepanjang tahun dan dikenal dengan nama “pancor enem”. Yup, semoga tetap terjaga hingga nanti.

Kolam Pancor Enem (captured by Azmi)

Kolam Pancor Enem (captured by Azmi)

The crowd (captured by Arya)

The crowd (captured by Arya)

Selain sebagai kawasan hutan konservasi, sebagian wilayah dari kawasan hutan ini juga telah menjadi Hutan Kemasyarakatan (HKm). Tidak hanya kaya air, kawasan ini juga kaya hasil hutan, terutama pisang. Jika menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar kampung, mungkin kita akan mendengar seputar program jasa lingkungan. Semacam kerjasama hulu-hilir. Pelanggan air PDAM akan ditarik iuran (include dalam slip air bulanan) yang kemudian akan disalurkan ke masyarakat di kawasan hutan. Penggunaannya terencana bertanggungjawab. Sebagian dibelikan bibit untuk penanaman kawasan hutan yang masih kurang tutupan sebagian untuk modal perekonomian.

Celengan jasa lingkungan, bentuk kearifan masyarakat.

Celengan jasa lingkungan, bentuk kearifan masyarakat.

Kerennya, kelompok wanita di kawasan ini punya celengan “jasa lingkungan”. Iya, mereka mengolah berbagai hasil hutan menjadi produk makanan, mulai dari keripik singkong, pisang, keripik buah lainnya, manisan, sampai kopi. Sedikit keuntungan dari berjualan disisihkan untuk kepentingan hutan.

Setil? YES.

Setahu saya, produk makanan hasil kelompok tersebut telah dipasarkan di beberapa supermarket. Sayangnya kemarin saya tak melihat jajanan tersebut dijual di sekitar kawasan. *Atau mungkin sudah ludes? Hehehe..

Setelah puas mandi, coba deh jalan-jalan ke kampung. Tanyakan saja rumah warga yang jadi pusat usaha kelompok. Lumayan untuk belanja oleh-oleh makanan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Di Lombok, selalu ada plus-plus lain yang bisa didapat saat berkunjung ke tempat wisata. Ingat, jadi pengunjung yang bijak ya! 

Semoga terjaga sampai nanti. (Captured by Azmi)

Semoga terjaga sampai nanti. (Captured by Azmi)

So, bro-sist, kapan ke Lombok? 😀

(Visited 1,659 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Aik Nyet Lombok: Perpaduan Wisata Hutan dan Kearifan Masyarakat' have 1 comment

  1. July 25, 2016 @ 6:53 pm bunsal

    Aaakkkk..akhirnya ada foto jalur bersejarah juga.
    Tapi, kalo sudah dibeton begitu, jadi susah dong ya gegulingan.
    *pecinta alam lama yg gegulingan di Aik Nyet puluhan tahun lampaauuuu..

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool