Seni musik Ale-Ale lombok

Ale-Ale: Seni Musik Asyik Ala Lombok

Vote Us

Seni musik selalu menarik untuk dieksplor. Seperti yang banyak dikatakan orang: musik adalah bahasa universal, musik mengasah rasa. Setiap daerah pasti memilki kekhasan tersendiri, baik alatnya, lagu, ataupun cara memainkannya.

 

Bosan ke pantai, tinggal melipir ke gili. Baca: Gili Rengit Secret Island

Kalau Jawa Barat punya angklung, maka Lombok punya Gendang Beleq. Wait! Nggak cuma itu, Lombok juga punya banyak yang lain. Well, meski tidak se-etnik Gendang Beleq, maka bolehlah kita menyebut Kecimol dan Ale-Ale sebagai bentuk seni musik dengan sedikit sentuhan modernitas. Postingan saya kali ini tentang Ale-Ale, saudara dekat si Kecimol. Hehe..

Seni musik ale ale Lombok

Full team Ale-Ale Lombok, semangat!

Umumnya pertunjukan seni musik di Lombok akan mudah kita temui pada prosesi pernikahan adat Sasak. Seperti halnya nyongkolan yang diiringi Gendang Beleq atau Kecimol Lombok. Jika Gendang Beleq menjadikan prosesi lebih khidmat, maka Kecimol cenderung modern kontemporer. Lepas dari kontroversi yang muncul belakangan, terutama perihal kecimol yang somehow dianggap sedikit melenceng dari budaya Sasak, tetap saja, ada nilai-nilai positif dan keseruan yang meruak di masyarakat. Bagi banyak kelompok masyarakat Sasak, nyongkolan dengan arakan kecimol adalah momen yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ada nilai kebersamaan yang tak tergantikan.

Seni musik khas Lombok Ale-Ale

Ini belum mulai tampil aja penontonnya udah rame begini. Wew, can you imagine that?

Lain Gendang Beleq, lain Kecimol, lain juga Ale-Ale. Oya, yang akan saya tulis disini bukan tentang joget ale-ale, tapi lebih ke musiknya. Karena ternyata tidak semua kesenian ale-ale menggunakan tarian/joget saweran seperti yang umum diketahui orang-orang. Meski awalnya saya pun punya pandangan yang, well..just so so, terhadap seni musik yang satu ini. Ale-Ale dalam bahasa Indonesia adalah sebutan untuk laron, serangga malam yang selalu terbang berkelompok mengelilingi cahaya lampu. Sekali berkumpul, jumlahnya bisa sangat banyak. Menurut salah seorang teman, dari sanalah penamaan musik ale-ale. Keberadaan ale-ale diharapkan mampu menghadirkan kerumunan orang untuk menonton. Might be true!

Lalu, trus apa bedanya Gendang Beleq, Kecimol, dan Ale-Ale?

Kalau Gendang Beleq atau Kecimol biasanya menjadi pengiring pasukan nyongkolan, maka Ale-Ale lebih sering menjadi hiburan di rumah penggelar hajatan. Tujuannya untuk menghibur tuan rumah, tamu, dan tentunya masyarakat sekitar.

Pemain seni musik ale ale

Serius amat bang ekspresinya!

Satu kelompok Ale-Ale bisa berjumlah sampai 10 orang. Masing-masing memiliki tugas tertentu. Ada yang bertugas sebagai penyanyi, pemain suling, penabuh gong dan drum, serta pemain lincik. Dari alat-alat musik tersebut, lincik yang menurut saya paling unik. Bentuknya piringan dan jumlahnya 8 keping. Suara yang ditimbulkan dari lincik ini yang menurut saya membuat musik Ale-Ale terdengar unik. Tentunya selain penyanyi dan pilihan lagunya. Oya, biasanya, setiap anggota telah dilatih untuk bisa memainkan semua alat musik yang ada.

Seni-musik-kontemporer-disukai-masyarakat

Si Abang mainnya serius dan aslik keren banger!

Seni musik ale ale modern

Inih yang namanya gong Ale-Ale!

Alat until seni musik Ale-Ale bernama lincik

Inih yang namanya Lincik!

Lagu-lagu yang dinyanyikan adalah tembang Sasak. Menurut salah seorang anggota kelompok yang saya tanyai, pilihan lagu mereka juga tidak asal-asalan. “Diusahakan lagu-lagunya yang punya makna,” terangnya. Penyanyi Ale-Ale umumnya punya suara yang khas, mendayu-dayu namun sedikit melengking.

Ada kelompok Ale-Ale yang memang menyediakan talent khusus untuk berjoget (biasanya perempuan), sebagai daya tarik agar pengunjung makin ramai. Tapi ada juga yang lebih fokus kepada kualitas suara dan tabuhan musik.

 

Seni musik selain kecimol di Lombok

Kelompok pemain juga biasanya menggunakan pakaian seragam. Biar kompak gituu!

Biasanya, saat musim nikah di Lombok (setelah lebaran) kelompok Ale-Ale bisa full booked, baik weekdays maupun weekend. Guess what? According to my opinion, the fee is pretty cheap. Sekali “manggung” tarif kelompok Ale-Ale ini berkisar antara Rp.300.000 sampai di atas Rp.500.000. Bagi mereka, bermusik bukan sekedar masalah bayaran tapi sudah jadi hobi.

Apa iya kita hanya bisa menonton seni musik ini saat ada perayaan pernikahan? Tidak juga. Jika ingin menikmati suguhan musik ini, Ezytravelers bisa langsung mencari sanggar seni atau perkumpulan yang ada di kampung-kampung.

Seru kan?

Finally, kemanapun kaki melangkah di pulau Lombok tercinta ini, selalu ada hal baru dan menarik yang bisa diceritakan kembali. So, tunggu apalagi? Get ready and see you very soon in Lombok! Ups, jangan lupa, to travel in easy way, just let EzyTravel know!

 

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: Paket Wisata Murah
(Visited 176 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Ale-Ale: Seni Musik Asyik Ala Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool