Gunung Rinjani

Cerita Singkat dan Alasan Saya Mengapa Harus Mendaki Rinjani

Cerita Singkat dan Alasan Saya Mengapa Harus Mendaki Rinjani
5 (100%) 3 votes

Jika anda orang Lombok, lahir ataupun pendatang dan kemudian menetap di sini, siap-siap saja anda akan di-bully oleh (mungkin) teman, keluarga, pacar yang asli Lombok dan mereka yang kebetulan pernah mendaki Rinjani. Itulah yang saya alami, saya lahir, besar dan keluarga besar adalah asli Lombok dan kebetulan juga lahir di (hampir) kaki Rinjani yang disebut Aikmel, selalu di-bully oleh mereka yang pernah mendaki Rinjani, karena waktu itu saya belum pernah berpetualang ke gunung yang tingginya 3726 mdpl tersebut.

Kata mereka masa’ anak asli Lombok dan lahir di Aikmel nggak pernah sama sekali mendaki Rinjani, malu! padahal tinggal naik angkutan sayur aja sejam udah nyampe. Oke, satu-kosong!

View Gunung Rinjani dari Desa Aikmel

View Gunung Rinjani dari Desa Aikmel

View Gunung Rinjani

View Gunung Rinjani

Dengan tekad yang bulat, semangat yang berapi-api dan memikul beratnya beban menjadi orang asli Lombok yang belum naik Rinjani, maka berencanalah kami ber-5 yang kebetulan juga belum naik Rinjani sama sekali untuk mendaki gunung berapi tertinggi ke-2 di negeri ini. Dan hebatnya, perencanaan mendaki Rinjani kami diskusikan hanya semalam. Malam ini berencana, keesokan sorenya go!

Berangkatlah kami menuju Senaru, menginap semalam dan bercengkerama serius dengan para porter yang akan menuntun kami besok ke petualangan yang sesungguhnya. Bagaimanapun juga kami harus ‘cair’ dengan mereka agar tak menganggap remeh kami yang belum sama sekali mendaki Rinjani. Keesokan paginya, berangkatlah kami berlima dan dua orang porter menuju Sembalun. Dengan persiapan ransel gunung yang biasanya saya pakai backpack ke luar kota kini ke gunung juga akhirnya, sapoq Sasak tak lupa saya kenakan di kepala agar meyakinkan perjalanan kali ini bahwa saya benar-benar melangkah di tanah sendiri. Langkah pertama kaki ini kami injakkan di Bawaq Nao, pintu pendakian yang bisa menghemat waktu sekitar 2 jam dari pada melewati gerbang pendakian Rinjani yang sebenarnya.

Pemanasan Dulu

Pemanasan Dulu

Pemandangan nan hijau dan terik matahari pagi menemani perjalanan kami. Tak ketinggalan juga shock therapy di kilometer pertama dan kedua membuat kami seakan-akan menyesal memilih petualangan ini. Tapi, dengan semangat yang tinggi pos  1 pendakian pun kami lewati, hingga menemukan ritme perjalanan yang sesungguhnya. Beristirahat sejenak di Pos 2 untuk bersantap siang, menikmati segelas kopi di tengah padang savanna yang sebelumnya panas menyengat menjadi adem karena perlahan sinar terik matahari tertutup oleh awan yang seakan sejengkal di atas kepala kami.

Trek Sembalun

Trek Sembalun

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Kaki ini langkah demi langkah kami ayunkan, hingga pos 3 pendakian kami cueki dan ogah mau beristirahat di sana karena paha dan betis kami masih bisa diajak kompromi, maka sampailah kami di sebuah tempat yang orang bilang Bukit Penyesalan. Ada pula yang menamai bukit ini Bukit Penyiksaan. Tapi bagi kami, bukit ini kami namai dengan Bukit Sinting, iya, bukit yang benar-benar membuat stress/hampir sinting. Dinamai Bukit Penyesalan atau Bukit Sinting dan sebagainya, karena treknya yang terus menanjak, curam dan melewati tiga bukit yang seakan-akan masing-masing bukit menipu dengan puncaknya. Puncak bukit yang satu habis, masih ada dua bukit lagi yang harus ditaklukkan, serta di sinilah awal dari lima langkah kaki menjadi tiga dan selanjutnya dua langkah dan diselingi pelemasan.

Berpose di Bukit Penyesalan a.k.a Bukit Sinting

Berpose di Bukit Penyesalan a.k.a Bukit Sinting

Singkat cerita, sampailah kami di Pelawangan Sembalun yang tingginya di 2700 mdpl dan menginap semalam. Sesuai rencana, kami memang enggak pengen melanjutkan perjalanan ke puncak Rinjani di jam 1 dinihari nanti yang kira-kira satu kilometer vertikal dari Pelawangan Sembalun. Menurut kami, di ilmu gunung itu adalah bagaimana proses mendaki, puncak hanyalah bonus. Begitulah kira-kira. Hahaha.

Camp Area Pelawangan Sembalun

Camp Area Pelawangan Sembalun

Keeseokan paginya, kami meninggalkan camp area Pelawangan Sembalun untuk melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak. Sebelumnya, tak lupa kami lakukan ritual yang lazim dilakukan oleh para pendaki, yakni ritual pengabadian diri saat menikmati matahari terbit dari timur alias foto-foto sekediq antek ne araq bukti begunung, hmmmm, sungguh luar biasa.

Sunrise Pelawangan Sembalun

Menikmati Sunrise dari Pelawangan Sembalun

Sunrise Pelawangan Sembalun

Menikmati Sunrise dari Pelawangan Sembalun

Perjalanan ke danau kami tempuh selama 4 jam dengan berjalan kaki dan sesekali kami beristirahat dan berfoto, serta menunggu salah satu dari teman kami yang cedera lutut dipijit oleh pendaki lain yang sama sekali kami tidak kenal. Sesampai di Danau, tenda sudah berdiri menunggu kami datang, dan tak banyak cakap, kami langsung menuju Aik Kalaq, yang kalau orang bule bilang hot water spring kami berendam dan mencoba rileks, menyegarkan otot-otot dan urat-urat yang selama 2 hari perjalanan yang sangat aduhai.

Trek Menuju ke Danau

Trek Menuju ke Danau

Pojok Danau Segara Anak

Pojok Danau Segara Anak

Semalam menginap di danau, tak banyak aktivitas di danau yang kami lakukan, Karena besok pagi-paginya kami harus melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Senaru dan sesuai rencana kami tidak akan bermalam di sana, jadi harus beristirahat penuh di sini. Tapi, tak lupa kami mengabadikan momen-momen indah di danau. Mulai dari berfoto berlatar Gunung Baru Jari, berenang di danau sampai mengabadikan pasangan bebek berenang dengan santainya di tengah danau.

View Segara Anak dan Berlatar Gunung Barujari

View Segara Anak dan Berlatar Gunung Barujari

Jangan Liat Modelnya, Perhatikan Saja Latarnya!

Jangan Liat Modelnya, Perhatikan Saja Latarnya!

Keesekoan paginya kami langsung tancap gas menuju Pelawangan Senaru.  sekitar 5 jam perjalanan, sampailah kami di pojok Rinjani yang memukau. Di Pelawangan Senaru, sejauh mata memandang hanyalah hamparan hutan cempaka di sekeliling  dan pemandangan danau segara anak yang hijau serta view puncak Rinjani yang kokoh terlihat sangat jelas. Berbeda dengan di Pelawangan sembalun, pemandangan yang ada di Pelawangan Senaru tak bisa kita dapatkan di sana. Hanya saja di Pelawangan Senaru tidak ada sumber air karena kontur tanahnya yang bebatuan dan juga tandus.

ViewDanau Dan Puncak Dari Pelawangan Senaru

View Danau dan Puncak Dari Pelawangan Senaru

View Gunung Barujari dari Pelawangan Sembalun

View Gunung Barujari dari Pelawangan Sembalun

TIKET PENERBANGAN MURAH KE LOMBOK

Setelah itu kami melanjutkan lagi perjalanan. Kali ini perjalanan kami agak ringan karena treknya menurun. Tapi ingat, di sini lutut anda harus kuat. Di trek ini kami disuguhi pemandangan indah oleh hamparan bunga edelweiss bak taman dengan bunga yang tertanam dan berjejer rapi. Tak lupa juga kami mengabadikan momen di sini walaupun sempat terguling, jatuh karena posisi kami yang agak kurang tepat karena trek di sini harus sedikit berlari dengan gaya zig-zag.

Gaya Bebas!

Gaya Bebas!

Perjalanan di sini melewati hutan basah, jadi agak adem dibandingkan dengan trek Sembalun. Di setiap perjalanan kami menemukan primata asli hutan Senaru yang mungkin sedang sekedar say hello atau mungkin mereka mengejek kami dengan sapaan halo, bro, apa kabar lututmu? Emang enakkkk?!

Satu persatu pos pendakian Senaru kami lewati, dan di pos 3 kami rehat sejenak sambil bersantap siang. Hingga sampailah kami di Jebak Gawah dengan memakan waktu sekitar 3-4 jam dari pos 3. Di Jebak Gawah inilah petualangan yang tak terlupakan ini berakhir hingga kami menemukan air mineral dengan harga yang standar. Iya, sebelumnya di atas sana, harga air mineral ataupun minuman suplemen sangat tinggi harganya,  sampai 3 kali lipat!

Saat beristirahat di Jebak Gawah, saya sadar bahwa mendaki Rinjani adalah tak sekedar karena bully-an semata, tapi memang orang Lombok khususnya dan semua orang pada umumnya harus ke Rinjani agar tahu bahwa kita sebagai manusia tak ada apa-apanya dibandingkan sang pencipta. Perjalanan ke Rinjani tak sekedar gaya-gayaan, tapi sebuah perjalanan filosofis bahwa menjadi sukses itu tak bisa diraih dengan cara instan, jalan yang berliku dan acap kali terjatuh pasti kita rasakan, hingga menuju apa yang kita idam-idamkan dan cita-citakan. Serta, Jika ada seseorang bilang pertama kali naik Rinjani dan siap-siap akan jatuh cinta, iya, saya jatuh cinta, sangat sangat sangat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tiga hari pendakian Rinjani sebenarnya sangat nanggung, tapi kami berencana akan mendaki lagi tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, karena belum puas. Untuk yang selanjutnya, kami berencana akan menaklukkan puncak dan bermalam lebih lama di pinggir danau Segara Anak.

Uwah Lulus Jari Dengan Lombok

Uwah Lulus Jari Dengan Lombok

Itulah sedikit cerita saya tentang Rinjani, jika anda adalah orang luar Lombok, silakan datang ke pulau kami yang indah ini, silakan ke Rinjani, anda pasti akan mendapatkan pesona dan sensasi yang berbeda dari gunung-gunung yang lain di Indonesia. Apabila anda orang Lombok yang sudah naik Rinjani, tenang saja kita sudah lulus menjadi penghuni Lombok. Buat yang sudah mem-bully saya, sekarang kita udah satu-sama ya!

…dan satu lagi, apabila anda orang Lombok yang belum naik Rinjani, siap-siap saja jika bertemu saya, saya akan sangat senang akan mem-bully anda! Hahaha.

English Version :

https://translate.google.com/translate?sl=indonesian&tl=en&js=y&prev=_t&hl=en&ie=UTF-8&u=http://hellolombokku.com/cerita-singkat-dan-alasan-saya-mengapa-harus-mendaki-rinjani/
(Visited 1,580 times, 1 visits today)


About

Kadal Nongak leq Kesambik, Benang Katak Setakilan... Aduh Denda ~


'Cerita Singkat dan Alasan Saya Mengapa Harus Mendaki Rinjani' have 8 comments

  1. May 7, 2015 @ 10:21 pm Yudhie

    Orang Lombok yg blm naek Rinjani “Gagal” jadi orang Lombok. Saya siap bantuin ngebully Mas hahaha

    Reply

  2. May 8, 2015 @ 9:06 am Abdi Wirastami

    Saya sudah naik ke Puncak Rinjani Mei tahun kemarin. Kebetulan saya dulu kerja di WWF Indonesia jadi pekerjaan saya tidak jauh dari hutan dan taman nasional gunung rinjani plus saya adalah anak Lombok jadi saya udah lulus jadi anak Lombok. Hehehe… Saya siap membantu mem-bully.

    Reply

    • May 12, 2015 @ 10:22 am Abenk Kautsar

      Hehehe… kita sama-sama sudah lulus jadi orang Lombok. wkwkwk

      Reply

  3. May 18, 2015 @ 3:57 pm Ndez

    mas abenk bagi kontaknya boleh gaaak

    Reply

  4. June 15, 2015 @ 12:15 pm pramanafajri

    merencanakan penaklukan rinjani yang ke-5 kali, setelah penaklukan yang ke-4 terjadi 4 tahun silam,….
    kangen banget sama rinjani,..
    #RINJANIIIIII_I’M_COMIIIIIIIIIIIIING

    Reply

  5. October 28, 2015 @ 2:06 pm Jena

    Hai, kalau dari ceritanya Rinjani tampaknya aman ya untuk pendaki amatir?
    Kalau untuk suhu udaranya waktu malam gimana? Dingin banget tidak?

    Reply

  6. November 8, 2016 @ 7:15 pm ifan

    biissshh rinjani broowwwwwww

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool