Gunung Rinjani

Chapter 1: A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok

Chapter 1: A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok
5 (100%) 1 vote

Masih saja ragu untuk bertandang ke Lombok? Atau masih butuh bukti biar nggak bimbang? Takut jadi korban PHP alias pemberi harapan palsu?

Pulau Lombok mah nggak gitu. Insya Allah, siapa saja yang ke Lombok bakal divonis rindu yang menggebu ingin balik lagi, lagi dan lagi (semoga tetap seperti itu).

Si pulau kecil mungil ini memang pandai sekali menampakkan keindahan wisata yang tempat lain nggak punya. itulah alasan utama kenapa Lombok menjadi salah satu lokasi yang patut dijelajahi. Apalagi sekarang tiket pesawat begitu mudah didapat dengan harga yang reasonable. Jadi, apa sih yang masih menjadi penghalang Anda buat berkunjung ke Lombok tercinta ini? Dan apa karena refrensi yang kami tawarkan masih kurang? Baiklah… cek this next article!

Kisah ini berangkat dari sebuah ‘kado’ ulang tahun yang Bunda persembahkan buat saya tahun lalu, 2014. Sebuah perjalanan yang saya idam-idamkan sejak kelas 5 SD yang kini sudah menjadi nyata.

The Birthday Gift, Rinjani Mountain

The Birthday Gift, Rinjani Mountain

Fiuh... a thousand years banget lah nunggunya karena dari dulu alasannya, “Besok aja kalo udah gede-an dikit.”, bahkan sampai sudah duduk di bangku sekolah menengah atas saja saya masih dianggap ”too small” di mata Bunda. Tapi, bagi saya pribadi, restu orangtua itulah yang terpenting. Jadi, ngga berani buat ngebantah larangannya.

Namun, hari itu Dewi Fortuna rupanya sedang berpihak pada saya. Seminggu setelah hari ulang tahun, saya sempat nyeletuk ala gosok-gosok berhadiah gitu. Ya, sebuah teori universal yang kebanyakan orang percaya, “Iseng-iseng, siapa tau beruntung.”

“Bun.. udah mau kuliah ni. Boleh ya naik Rinjani? Kan lumayan lama nih liburnya.”

Sebenarnya sih ngga begitu ngarepin sebuah jawaban yang fantastis atau yang menyenangkan. Sebab, the answer is always a “NO”. Bahkan jika bukan “tidak”, Bunda selalu punya beberapa cara terselubung untuk mengatakan tidak.

Sempat ada kesunyian diantara kita beberapa menit, sehingga sudah bisa saya prediksi jawabannya pasti “tidak” (lagi).

“Hmm.. Iya, Nak. Boleh. Kapan rencananya?”, jawab Bunda.

WHAT? REALLY? Sampai korek-korek kuping segala saking takut salah denger.

Wah, setelah tau kuping ini ngga salah, saya langsung sungkem Bunda penuh haru.

Persiapan yang kami lakukan hampir memakan waktu sebulan lamanya. Maklum, the very first time, jadi semua harus well prepared. Mulai dari hal-hal umum sampai yang sifatnya kecil. Pokoknya everything a climber needs deh. Termasuk hari dan bulan apa yang sebaiknya kita berangkat.

Karena biasanya bulan Juli-Agustus itu adalah bulan di mana banyak pendaki naik buat ngibarin bendera merah-putih di hari kemerdekaan Indonesia, tentunya di atas puncak Gunung Rinjani. So, sepertinya muncak setelah momen istimewa itu adalah pilihan terbaik buat saya. Terlebih, Bunda juga ikut naik nemenin saya. Kurang asik apalagi, Sob? For the first time and accompanied by my very first love.

Gunung Rinjani

sejauh mata memandang, hanya Savanna yang terlihat

Singkat cerita, berangkatlah kami di suatu subuh pada bulan September dengan diantar Ayah tercinta. Dari Mataram menuju Sembalun, kami hanya memakan waktu selama 2,5 jam karena perlu diketahui bahwa kondisi jalan di saat langit masih lumayan pekat tentunya sangat lengang, terlebih (mungkin) penduduk bumi masih ada yang pulas di ranjangnya masing-masing.

Hawa di sana cukup dingin dan berkabut. Tapi itu bukan suatu alasan yang perlu dibesar-besarkan, sebab hal itu sudah biasa karena Sembalun adalah daerah yang termasuk wilayah dataran tinggi.

Gunung Rinjani

Around Pos 1. Seakan tak ingin beranjak pergi

Oke. Tiba di portal awal menuju Gunung Rinjani, tepatnya di Desa Lendang Luar, kami langsung unload our backpacks and ready to set free.

Sempat mengurus sedikit administrasi di depan sebelum akhirnya naik mobil pick-up yang akan mengantar kita ke gerbang Taman Wisata Nasional Gunung Rinjani.

Jalanan naik-turun kami tempuh sekitar 20 menit. Begitu tiba, kami langsung mulai berjalan. Ngga bawa guide ataupun peta. Jadi, saya sama Bunda hanya bermodal Bismillah. Syukurnya, jalan di sana sudah terbilang jelas. Kami membaca jalan dengan cara melihat jalur manakah yang sering dilewati orang, dan begitu melihat rombongan lain kami berucap syukur karena itu artinya kami tidak tersesat.

Ah… jika saya kembali mengingat perjalanan itu, saya selalu ingin tertawa sendiri.

Gunung Rinjani

Pergasingan Hill terlihat cukup jelas dari pos 2

Di tengah perjalanan, menuju pos 1, kami berjumpa seorang porter bernama Anto yang bersedia membantu membawa barang-barang kami. Tawarannya pun kami terima dengan senang hati karena dengan begitu saya dan Bunda bisa lebih leluasa menikmati panorama Rinjani sepanjang jalan.

Ngomongin soal view nih, di sana mah luar biasa. Bentangan savana yang begitu indah membuat kami lupa akan teriknya matahari. Bahkan, sangat jarang kami menengok jam tangan karena terbawa suasana yang benar-benar alam banget.

Perjalanan menuju pos 1, tetap semangat

Perjalanan menuju pos 1, tetap semangat

Asyik ngobrol dan bercanda bareng Bunda, eh tiba-tiba udah nyampe pos 1 aja. Lalu kami mampir sejenak untuk melepas lelah, dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju pos 2 untuk bermalam karena di sana dekat dengan sumber air.

Do you know what makes me happy with this journey? It is because, setiap orang yang saya jumpai tidak pelit sapaan ramah dan seyuman manis.

Gunung Rinjani

Sunrise di pos 2 seakan berada di atas awan

Seketika saya berpikir bahwa perjalanan seperti ini ternyata bisa mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat dari berbagai belahan dunia (baik domestic maupun non-domestic).

Selain pemandangan yang membuat kita terbuai, obrolan santai bersama sahabat-sahabat baru serta Mas Anto yang membuat waktu tidak terasa berlalu dan tanpa sadar akhirnya kami pun sampai di pos 2. Di sana sudah ada berugak permanen yang siap kita duduki untuk menghela napas sejenak.

Keep it safe, Okay?

Lelah? Sudah pasti lelah. Tapi lagi-lagi dengan perjuangan itu Tuhan menghadiahi kami sebuah keindahan langit senja.

Mas Anto segera mendirikan tenda dan menyiapkan kayu bakar karena malam segera datang.

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani tampak gagah dari pos 2

Di sana kami bertemu kelompok pendaki dari berbagai wilayah. Alasan average mereka mau jauh-jauh datang ke sini yaitu karena mereka ingin memastikan rumor mengenai indahnya Gunung Rinjani yang katanya indah banget itu adalah benar atau hanya kepalsuan belaka. Dan ternyata, fakta yang mereka terima “more than that”. Gunung Rinjani itu benar-benar indah, bahkan sangat indah! Yap, ini udah jadi bukti yang kuat buat sobat travellers kalo Rinjani emang sangat pantas dicoba.

The view is stunning!

The view is stunning!

Sob, ini masih sampai di pos 2 lho. Perjalanan kami masih lumayan jauh. Dan keindahan Gunung Rinjani belum sepenuhnya saya tuangkan dalam tulisan ini. So, nantikan Chapter 2 minggu depan. Okay?

(Visited 443 times, 1 visits today)



'Chapter 1: A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok' have 11 comments

  1. June 15, 2015 @ 7:56 pm Firdi K. Ramadhan

    Wait for the next chapter.

    Reply

  2. June 16, 2015 @ 9:48 am bocahsedeng22

    ih keren gilak ini penulis,bikin gueh jadi pengen kesana juga, ditunggu yow postingan selanjutnya hi hi hi

    Reply

  3. June 16, 2015 @ 12:22 pm Nafiul rijal

    Wiih lysya zahara keren,tapi kenapa nama mas anto aja yg disebut ? Nama “mas dika” mana ? Hahahah

    Reply

  4. June 17, 2015 @ 1:17 am ulum_achmad

    asiiikk nih…. ditunggu chapter-2 nyaaa…
    Salam Lestari dari Kota Malang Tercinta…

    Reply

  5. June 17, 2015 @ 6:11 pm Bunsal

    Nyontek doanya dong dik, sapa tau suami saya juga akhirnya mengijinkan dan mau ikutan rendezvous trekking ke Rinjani.
    Kali ini, sambil buat video fun fishing di Segara Anak..^_^

    Reply

    • June 23, 2015 @ 4:31 am Lysya Zahara Mahyuni

      Monggo dicontek ae, Bun. Kali aja beruntung, hehehe. Wah, seru tuh kayaknya. Kalau jadi, ajakin saya juga ya, Bunsal 🙂

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool