Gunung Rinjani

Chapter 3 (The Closing Part): A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok

Chapter 3 (The Closing Part): A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok
5 (100%) 1 vote

Pulau Lombok. Pulau kecil di bagian Indonesia tengah ini mempunyai pilihan wisata yang beragam. Ya, itulah sebabnya seseorang tidak akan pernah bisa mengakhiri ceritanya perihal keindahan yang tersaji di pulau yang juga cukup terkenal dengan mutiaranya.

So, what are you waiting for? Segera booking ticket Anda karena Lombok is ready to meet you.

Wah, ngga kerasa kita sudah nyampe di chapter 3 nih, dan itu artinya kita sudah berada di ending dari seluruh rangkaian pengalaman yang unforgettable ini.

“Iya, Mas Anto. Insya Allah jadi muncak.” jawabku.

Lalu kami asik ngobrol sambil bersantap malam di depan api unggun. Chit-chat bareng pendaki lain membuat waktu tak terasa semakin bergulir sehingga tak terasa dingin (juga) kian menusuk sanubari tulang. Kami bersenda gurau plus share tentang pahit-manisnya Bukit Penyesalan.

Dan saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00, kami kembali ke tenda masing-masing untuk mengisi energi yang sudah terkuras seharian.

Entah karena ngga sabar menanti momentum muncak atau memang karena cuaca dingin yang mengilukan, maka saya terbangun tepat pukul 00.00. Tidur hanya 2 jam saja, Sob!? Bayangkan, 2 jam! Perjalanan seharian yang melelahkan, tapi Tuhan cuma mengizinkan saya tidur dalam waktu yang super singkat. Padahal alarm sudah saya siapkan untuk berdering pukul 1 dini hari. Yah, tapi begitulah….

Oke, saat-saat seperti ini saya butuh teman ngobrol untuk menepi dari rasa tak nyaman ini. Tengok sebelah kiri saya, Bunda sedang terlelap dalam mimpinya. Ah… ngga adil rasanya ngebangunin birthday organizer saya ini hanya untuk menemani saya bercakap.

Lalu keluarlah saya dari tenda untuk mencari mas Anto. Eh ternyata dia sudah bangun.

“Ini orang Iron Man kali, kok tidur kilat benar. Kayaknya dia pake system nge-charge tercanggih yang hanya beberapa menit langsung full batrenya,” pikir saya.

Mas Anto terkejut melihat saya sudah bangun secepat itu (Mungkin mas Anto berpikir kalo saya ini Iron Women -_-“). Mendengar alasan saya bangun karena kedinginan, Mas Anto langsung sigap mencari kayu bakar. Dan, voila… one set of bonfire is ready.
Menghangatkan diri di depan api unggun ternyata mampu membawa waktu mendekati pukul 2 dini hari. Mas Anto pun kembali sibuk menyiapkan early breakfast biar ada stamina untuk muncak.

Wah, saya pun ngga mau kalah sibuk. Saya kembali ke tenda dan menyiapkan barang-barang yang akan dibawa.

“Bun… bangun, Bun. Adek pamit nih muncak,” bisik saya ke Bunda.

“Iya anakku..Hati-hati. Jangan jauh-jauh dari rombongan.” jawab Bunda setengah sadar.

Oke. The time has arrived, Lys! Time to open your birthday gift and write a history.

Perjalanan pun kami mulai saat itu juga. Dan ternyata sudah ada rombongan lain yang duluan berangkat. Dari tempat saya berdiri, mereka berjalan beriringan seperti semut yang menyala. Hanya saja ini manusia dengan alat penerang (baca: senter dan head lamp).

Huelahdalah, kalah start nih. Ngeliat mereka udah pada jalan duluan membuat saya semakin semangat. Terlebih Mas Anto memberi gambaran betapa indahnya sunrise di ketinggian 3.726 mdpl.

Wuih… Di otak saya sudah terbayang gimana menakjubkannya nanti di atas sana.

 

Gunung Rinjani

Beginilah medan that I have to deal with.

Awalnya, medannya masih bisa saya ajak beradu dengan kaki-kaki kecil ini. Saya ngga begitu ngarepin jalanan datar karena tahu ini menuju puncak, jadi… ya mana mungkin ada jalanan yang flat. Yang ada mah makin membentuk sudut tegak lurus *shock*. Sehingga, lama kelamaan medannya jadi berat. Jalannya penuh dengan pasir dan bebatuan yang membuat saya kewalahan sekaligus kelelahan melangkah.

Alhasil, hanya beberapa langkah saya sudah mengistirahatkan diri sejenak. Untung saja Mas Anto sudah siaga membawakan air minum.

“Santai, Mbak. Pelan-pelan aja pasti nyampe kok,” semangat Mas Anto.

Berasa lagi di suatu pertandingan basket dan di situ Mas Anto jadi Cheerleader-nya. Hahaha

Gunung Rinjani

Ada bayangan puncak Gunung Rinjani. Coba deh perhatikan baik-baik!

Come’on. Let’s put the spirit on the top gear, Lys! Kami lanjut berjalan. 3 langkah maju, 1 langkah mundur. Ya… inilah tantangannya. Tiap kali merasa lelah, saya menoleh ke kiri dan kanan. Cara tersebut termasuk salah satu jurus jitu untuk menepis rasa capek. Wah..dari atas sana semua kelihatan. Pemukiman warga sembalun yang menyala terlihat seperti lentera-lentera kecil, Gunung Agung Bali pun seakan melambai-lambai seolah menyapa dari kejauhan, perkemahan di Pelawangan Sembalun terlihat dengan jelas, dan Danau Segara Anak Gunung Rinjani turut mendamaikan hati.

Gunung Rinjani

Tampak Danau Segara Anak dari atas.

Pukul 04.00 saya masih berada di seperempat perjalanan. Tak kuasa menahan ngantuk, akhirnya saya membaringkan diri di salah satu bebatuan besar. Mas Anto pun dengan setia menunggu saya tertidur. Serius! Saya sempat terlelap selama 15 menit. Benar-benar ngantuk yang tak terelakkan.

Here is a little tips untuk Sobat Travellers. Pastikan Anda istirahat dengan cukup malamnya sebelum muncak. Jangan sampai nanti seperti saya ini yang tidur di tengah perjalanan.

Tak sedikit dari sahabat-sahabat baru yang kami temui selama perjalanan yang ternyata ikut summit juga. Satu per satu mereka melewati saya. Kalau balapan, saya mah sudah tiada harapan untuk menyalip mereka.

Ah… ngga boleh nyerah. Untung ada Sanken Mas Anto yang mau menggeret saya ke atas seperti mobil mogok tiap kali merasa letih.

Sob pasti pernah denger pepatah yang bilang, “Nafsu besar tenaga kurang” ‘kan? Iya… itu memang pas banget buat saya. Angan doang yang pengen segera tiba di atas tapi tenaga tak ada.

Gunung Rinjani

Ini nih batu tempat saya menyandarkan diri.

Menghirup udara pegunungan memang sesuatu yang membius. It was the sweetest smell I’ve ever smelled. I could’nt get enough of it. Seakan jantung saya memompa 10x lebih cepat biar nih paru-paru bersih dari polusi udara perkotaan.

Alhasil, saya tak dapat sunrise-an di ketinggian 3.726 mdpl (yup, penonton kecewa). Saya menikmati detik-detik matahari terbit di ketinggian setengah dari target perjalanan. Ngga mau ketinggalan momen berharga ini, saya pun duduk diam dan menikmati tiap detik keindahan sunrise yang mengintip tersipu malu.

I can sit there for the whole day just to see how the clouds build a magnificent cotton candy and the sun sparks slowly through them without leaving a mark.

Ah, Rinjani Mountain. One of the best masterpiece that Allah has ever made.

Gunung Rinjani

I have never seen a beautiful sunrise like this one before. Ciyus!

Usai dengan view yang fenomenal tersebut saya pun kembali melangkahkan kaki. Waktu sudah meunujukkan pukul 06.15. Matahari semakin bersinar dengan kemilaunya.

“Mbak, kalau memang tidak kuat, jangan dipaksa. Biar lain kali saja kita coba muncak.”, nasihat Mas Anto.

Waktu itu berada di posisi leher Gunung Rinjani, saya bersama pendaki dari Bogor sedang galau menentukan pilihan. Apakah balik atau lanjut ke puncak dengan kondisi matahari yang semakin terik?

Gunung Rinjani

Posisi terakhir sebelum akhirnya turun. Liat deh, padahal lagi dikit nyampe, kan?

Awalnya kami sepakat untuk turun saja, karena sepertinya tidak memungkinkan untuk naik. Pendaki lain sudah pada bunny-jumping menuruni Gunung Rinjani. Hanya tersisa kita dan beberapa pendaki lain yang jumlahnya bisa dihitung jari yang masih bertekad menuju Puncak.

Gunung Rinjani

We-fie bareng abang-abang dari bogor sebelum akhirnya galau mau tetap naik atau turun.

Ironisnya, keputusan yang saya ambil adalah turun. Sedangkan pendaki dari Bogor memilih tetap naik.

Awalnya pada dinyir-nyirin, “Ah, lemah nih, Mbak. Padahal lagi bentar nyampe lho. Masa iya turun?!”

Sejenak, saya tak peduli mereka bilang apa. Saya pun tetap berlari-lari kecil menuruni Si Cantik (baca: Gunung Rinjani). Lompatan-lompatan kecil pun saya lakukan. Ternyata menuruni gunung lebih menantang daripada naiknya. Aneka jenis kerikil dan pasir menghujani pakaian, celana dan kaos kaki saya. Kadang ada adegan guling-guling, kadang juga main perosotan, pokonya segala bentuk gerakan senam terjadi. Ah… aneka pasir dan bebatuan menempel manis pada diri saya.

Gunung Rinjani

Jalan yang harus dilewati ya kayak gini. Penuh pasir dan bebatuan.

Saya tidak pernah sekotor ini sebelumnya. Dan ternyata, apa yang iklan bilang tentang berani kotor itu baik adalah salah. Yang benar berani kotor itu LUAR BIASA BAIKNYA.

Mendekati Pelawangan Sembalun, saya sempat terhentak.

“Eh iya ding. Padahal kan tadi lagi dikit dapat tuh muncak. Kok saya cemen malah turun. Apa-apaan kamu, Lys?!” pikir saya.

Rada nyesel gimana gitu. Kado ulangtahunnya tidak saya buka dengan sempurna.
Ah, sudahlah. Saat itu yang ingin saya lakukan adalah bertemu Bunda dan memeluknya sebagai ucapan terima kasih.

Sampai di tenda, Bunda sudah merapikan barang-barang dan menyiapkan sarapan (lagi). Only this time a proper breakfast.

Sembari makan, saya dengan antuisias menceritakan Bunda keluh kesah serta suka duka saat muncak. Tak jarang Bunda terbahak-bahak mendengar perjalanan saya.

Gunung Rinjani

Suasana pagi itu di sekitar Pelawangan Sembalun

Usai sarapan, rombongan dari Bogor yang tadi melanjutkan diri untuk muncak pun sudah tiba di perkemahan. Tenda kami memang bersebelahan. Mereka memang terlihat gosong alias rada gelap karena bayangin aja, matahari mungkin hanya 4 atau 5 jengkal dari mereka saat dipuncak sana (maaf, yang ini agak hiperbol).

Mereka bercerita betapa bahagianya bisa memegang sebuah papan besi bertuliskan: “Top/Puncak MT. Rinjani. 3.726mdpl.”

Kegagalan saya menuju puncak dijadikan bahan bully-an oleh sahabat-sahabat baru dari Bogor dan Malang. Bahkan sampai saat ini, mereka lebih ingat dengan jelas peristiwa itu daripada saya.

Gunung Rinjani

Aksi sahabat-sahabat saya di ketinggian 3.726 mdpl yang membuat saya merasa gagal tiap kali melihatnya.

Ah…sedih! Tapi setelah dipikir-pikir, puncak bukanlah main gift-nya. Tapi dari awal perjalanan menuju ke Gunung Rinjani adalah kado yang sesungguhnya. Bertemu dengan sahabat-sahabat baru, duduk di bawah milyaran bintang, sunrise dengan view terbaik, serta menutup hari dengan sebuah senja yang mempesona merupakan rangkaian dari kado yang sebenarnya. But most of all, I am just beyond happy that I shared those beloved moment with my Mother, right next to me.

Dan lewat perjalanan ini saya banyak belajar. Salah satu diantaranya adalah, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Selalu ada makna dan keindahan dibalik semuanya. And being good friends with the nature is never a waste of time. Note that!

Kami berkemas dan turun mengarungi medan yang sama seperti waktu berangkat, hanya saja kami tidak balik ke gerbang awal, tapi melewati jalur Bawak Nau yang lebih efektif dan efisien. Disamping itu juga medannya lebih adem. Namun, kami sempat bermalam sekali lagi di pos II karena kondisi Bunda yang tidak mendukung untuk dipaksakan perjalanannya.

Gunung Rinjani

dapat oleh-oleh foto kaki dari seorang kerabat di puncak sana. OH NO!

Oke, inilah akhir dari cerita saya. Kita cukupkan sampai di sini, ya. Niatnya pengen lanjutin sampai sekian banyak season tapi takutnya nyaingin sinetron-sinetron di Indonesia dan drama Korea. I don’t wanna start a war, hihihi

So, yang suka bingung ngasih kado apa untuk si do’i, sekali-kali ajakin naik gunung aja nggih. Biar tahu bahwa alam adalah anugerah terindah dari Tuhan yang patut kita jelajahi (kan asik tuh, bisa jelajah bareng).

Untuk sobat travellers yang sudah setia menanti dan membaca sampai akhir, terima kasih banyak. Ayo tunggu apalagi, buruan ke Lombok. Jangan sampai Anda hanyalah penikmat artikel saya tapi ngga bisa menikmati Lombok secara LIVE. See you, then!

(Visited 319 times, 1 visits today)



'Chapter 3 (The Closing Part): A Perfect Birthday Gift, Gunung Rinjani Lombok' have 5 comments

  1. July 1, 2015 @ 7:49 pm dika

    masyallah puncak gunung rinjani sangat indah pemandangannya jadi pengen muncak ke sana 🙂

    Reply

  2. July 6, 2015 @ 9:06 pm syamsul anwar

    Kereeennn sya..
    Tp sayang ga sampe puncak, pdahal dikit lagi..
    #cemenn
    Agustus besok muncak yook!!

    Reply

  3. July 7, 2015 @ 11:12 pm saprol

    Semangat kakak! Tapi yg nyemangatin belom semangat….. haha

    Reply

  4. July 17, 2015 @ 4:33 pm Firdi K. Ramadhan

    Ayo datang lagi. Dan balas kegagalanmu itu

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool