Cuma di Lombok: Serunya Nyongkolan Pengantin Sasak!

Vote Us

Raja dan Ratu sehari, begitu biasanya julukan yang diberikan pada pasangan pengantin di momen resepsinya. Di Lombok, pasangan pengantin bisa merasakan sensasi “raja dan ratu” tidak hanya pada momen resepsi saja. Ada prosesi Nyongkolan yang bakal jadi unforgettable momen bagi pasangan pengantin Sasak. Wow!

Sampai usia saya saat ini (well, I’m 20 something now), saya baru satu kali saja “benar-benar” mengikuti prosesi nyongkolan. Itupun sudah sangat lama, yaitu ketika paman dan bibi saya menikah di tahun 2000. Prosesi ini baru dilaksanakan setelah semua proses pernikahan selesai; akad nikah, begawe kampung (syukuran), resepsi.

Paman dan bibi saya yang menikah di tahun 2000 :) Itu lho, baju khas pengantin Sasak dan riasannya :)

Paman dan bibi saya yang menikah di tahun 2000 🙂
Itu lho, baju khas pengantin Sasak dan riasannya 🙂

Tujuan utama dari Nyongkolan adalah mengenalkan pasangan pengantin kepada khalayak ramai. Semacam pengumuman kalau si A sudah sah menjadi istri si B, si B adalah suami si A. Sederhana tapi dalam maknanya. Meski sudah sangat lama, saya masih ingat dan merasakan kehebohan suasana nyongkolan saat itu. Mulai dari persiapan pasukan, tata rias, sampai tetek bengek yang harus dibawa saat prosesi berlangsung.

Not that hectic, it could be more!

Not that hectic, it could be more!

Nyongkolan juga merupakan wujud silaturrahmi keluarga pengantin pria ke keluarga pengantin wanita. Seingat saya waktu itu, keluarga merapatkan daftar anggota yang bakal menjadi anggota konvoi (saya ada di pihak keluarga laki-laki). Mulai dari orang tua, remaja, dan anak-anak semua di data.

Kelompok anak-anak :)

Kelompok anak-anak 🙂

Selanjutnya adalah menentukan rute. Paman saya tinggal di Kediri sementara istrinya berasal dari Narmada. Berbeda kecamatan. Keluarga akhirnya sepakat bahwa iring-iringan nyongkolan akan berjalan sekitar 1,5 km dari titik yang telah ditentukan sampai ke rumah pengantin perempuan. Done!

Pengiring pengantin juga boleh seragam menggunakn lambung seperti ini.Cantik!

Pengiring pengantin juga boleh seragam menggunakn lambung seperti ini.Cantik!

Keserasian juga harus diperhatikan. Jadilah saat itu kami menyewa kebaya kembar sehingga iring-iringan pengantin terlihat apik menawan. Maklum, kami akan jadi tontonan publik sepanjang hampir 2 km. Euyy!

Paman dan bibi saya saat itu menggunakan baju pengantin suku Sasak dengan riasan khas. Umumnya pasangan pengantin akan ikut berjalan bersama rombongan, tapi ada juga yang diarak diatas “singgasana”. Saat itu, paman dan bibi saya mengikuti cara yang kedua.

Pengantin berjalan kaki berikut payung praja kuning keemasan

Pengantin berjalan kaki berikut payung praja kuning keemasan

Pengantin dengan singgasana berbentuk kuda. Ada juga, lho!

Pengantin dengan singgasana berbentuk kuda. Ada juga, lho!

Jika ada pasukan pengiring pengantin, maka ada juga pasukan penyambut yang tentunya berasal dari kelurga pengantin perempuan. Pasukan penyambut menunggu pada jarak tertentu sebelum rombongan sampai.

 

Sebagian pasukan penyambut.

Sebagian pasukan penyambut  (captured by Rifat)

Ini sekaligus menjadi simbol bahwa keluarga pengantin perempuan menyambut datangnya anggota keluarga baru dengan penuh kebahagiaan.

 Ada yang unik perihal nyongkolan di Lombok. Meski sudah sering sekali, prosesi satu ini selalu saja menarik perhatian warga. Warga akan berbondong-bondong keluar ke jalan raya dan menyaksikan iring-iringan pengantin. Penasaran melihat pengantin baru.

Musik penyambut rombongan iringan pengantin

Musik penyambut rombongan iringan pengantin

 
Belakangan, nyongkolan mengalami modifikasi. Saya menyebutnya nyongkolan kontemporer Vs nyongkolan klasik. Perbedaannya dilihat dari jenis musik yang digunakan. Nyongkolan klasik masih setia pada musik Gendang Beleq yang ditabuh dengan irama tertentu. Sementara itu, nyongkolan kontemporer memilih menggunakan musik-musik yang lebih modern dengan lagu-lagi yang bisa direquest sendiri; kecimol, cilokak. Dengan Gendang Beleq umumnya proses nyongkolan berjalan lebih khidmat, sementara dengan musik kecimol prosesi menjadi lebih meriah dan bebas. Penonton pun kadang ikut masuk dan bergoyang mengikuti irama musik.

Rombongan iringan pengantin dalam barisan yang rapi

Rombongan iringan pengantin dalam barisan yang rapi (captured by Rifat)

Menurut para orang tua, prosesi ini sebetulnya “bukan hanya sekedar Nyongkolan”. Semua ada perhitungan dan maknanya. Pasukan pengiring pengantin diatur, siapa yang harus di depan dan di belakang. Posisi pengiring laki-laki dan perempuan juga diatur. Buah tangan yang dibawa pengiring juga ditentukan karena memiliki simbol dan makna tertentu (buah, jajan, dan barang kebutuhan lainnya). Pengantin perempuan berjalan di depan pengantin laki-laki sebagai simbol bahwa ia dihargai dan dihormati. Kostum pengiring pun ada syaratnya, kain yang dipakai harus di bawah lutut. Pengiring pria harus berbaju pegon hitam dan menggunakan sapuk. Dan masih banyak lagi aturan-aturan lainnya.

Senyum bahagia keluarga pengantin

Senyum bahagia keluarga pengantin (captured by Rifat)

Ingin menyaksikan langsung prosesi ini? Datang saja ke Lombok di waktu weekend, anda bisa jadi menemukan 2-3 pasangan nyongkolan, bahkan lebih. Macet adalah hal yang biasa terjadi saat nyongkolan. Banyak yang bilang, “Jadi pengantin di Lombok bakal kurang seruuu dan tidak berkesan tanpa nyongkolan!”

If you happen to be in Lombok, make sure you witness Nyongkolan for at least once in your lifetime. Enjoy, and don’t forget to capture the moment! 🙂

 

(Visited 1,029 times, 3 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Cuma di Lombok: Serunya Nyongkolan Pengantin Sasak!' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool