Hutan Mangrove di Lombok

Damainya Hutan Bakau Gili Sulat Lombok

Damainya Hutan Bakau Gili Sulat Lombok
5 (100%) 5 votes

Halo lagi sobat travelers Ezy. Meski sudah kembali sibuk dengan rutinitas harian selepas libur paska lebaran, manteng apdet spot wisata lainnya di Lombok selalu sempat dong ya. Mengapa? Keindahan alam Lombok tak melulu tentang pantai dan gunung. Masih banyak lainnya destinasi yang bisa kamu contek dan jadikan trip berikutnya yang tetap mengesankan. Nih, contek trip bermotor setengah hari saya ke Hutan Bakau Gili Sulat dan Gili Lawang di Lombok Timur.

Hutan? Bakau? Apa asyiknya?

Gili Sulat

Gili Sulat Mangrove Forest

Rabu di pekan awal Agustus lalu, saya sempat berbalas pesan intens di salah satu forum backpacker dunia yang femes dengan sebutan couchsurfing (CS). Meski hanya mengecek forum sesekali, saya akan lebih sering mengecek ketika banyak CS dari luar Lombok yang bertanya atau meminta informasi terkait rencana trip mereka ke spot-spot wisata favorit mereka. Sebagian besar sebenarnya sudah memiliki skejul trip yang pasti, namun mengundang CS setempat jika memiliki waktu untuk kopdar (meet up). Kebetulan salah seorang CS asal Rembang Jawa Tengah memiliki skejul trip fleksibel. Jadilah, skejul visit saya ke Gili Sulat dan Gili Lawang, menyaksikan langsung hutan bakau beroleh teman perjalanan. Di samping itu, seorang CS Lombok lainnya juga berkenan ikut meramaikan. Wah, trip-nya jadi ramai. Meet up CS, sekaligus hunting spot hello blogger.

Hutan Mangrove Lombok

Dusun Transad. Kapal kami yang bercat biru paling ujung kiri.

Titik kumpul (tikum) di salah satu distro di ruas jalan raya Masbagik, tepatnya persis di depan belokan pertigaan desa yang namanya terkesan berbahaya. Desa Danger (dibaca danger ya, bukan denjer seperti pengucapan Bahasa Inggris), Masbagik. Pukul setengah sembilan pagi, CS Rembang yang start dari Mataram (sudah landing sehari sebelumnya) sampai dan selepas perkenalan singkat, dua motor dengan lima pengendara cap cuss ke dusun Transad. Lokasi terakhir di mana beberapa nelayan di dusun ini siap antar siapa pun berkeliling Gili Sulat dan Gili Lawang. Dua motor berkecepatan sedang, membawa kami sampai ke salah satu gang rumah nelayan sekira satu setengah jam. Jadi, jika ditotal, akses bermotor dari Mataram sekitar 2.5 sampai tiga jam.

Gili di Lombok

Triathlon di duo gili cantik ini keknya seru yak. *membayangkan ..

Gili Sulat Lombok Timur

Dua rumah penjaga dan dermaga mini di ujung setapak beton Gili Sulat.

Duo gili (gili: pulau kecil) ini memang berdampingan rapat. Namun spot pertama yang dituju om Sahwan, boatman yang menemani rombongan saya adalah setapak beton yang membelah hutan bakau di Gili Sulat. Gili yang sudah lebih dulu tampak ketika kita sudah melewati desa Labuhan Pandan yang lebih femes dengan akses menuju beberapa gili indah lainnya seperti Kondo, Lampu dan Kapal. Perahu beratap terpal tebal digeber kencang menuju spot. Dua mesin diletakkan berdekatan dengan tempat duduk, sehingga suami saya yang mengobrol dengan dua rekan CS saya yang baru harus mengeraskan suara ekstra. Tak sampai setengah jam, dua rumah jaga sudah tampak. Pertimbangan saya berkunjung di hari kerja tampaknya ideal, karena pagi itu, hanya kami berlima di Gili Sulat. Horeeee, serasa pulau pribadi yak.

Gili di Lombok

Gili milik sendiri. Yippiii..

Hutan Bakau Lombok

Airnya bening bingiiiitzzz…

Hutan Mangrove Lombok

Yaaa, setapak betonnya habis.

Selepas meminta ijin untuk fokus mengambil banyak foto, dua rekan CS, suami dan putra saya menikmati perjalanan tenang memasuki hutan bakau Gili Sulat. Sepuluh menit awal, kami semua terkesan dengan beningnya air di sekitar lokasi. Pokok akar bakau yang tampak menghitam terlihat jelas berlatar pasir putih. Beberapa kelompok ikan kecil bergerombol di sana sini. Dari sekian banyak bakau yang kami lewati, terlihat hanya ada dua penanda nama latin pohon. Rizhopora mucronata. Tulisan hitam berlatar besi dicat kuning tua. Berjalan santai sepuluh menit, setapak beton serupa letter S. Sayang sekali, selepas tak sampai lima belokan, setapak beton tak ada lagi. Beberapa blok hanya sisakan beton yang membungkus tulang besi di bagian tengah. Saya dan suami yang coba memastikan apakah di ujung ada permukaan tanah, harus kembali. Perjalanan di spot ini tak sampai setengah jam. Kecuali jika sobat Ezy ingin memiliki koleksi foto sedang nangkring di salah satu bakau, tentu saja akan membutuhkan waktu cukup lama. Pijakan kaki benar-benar hanya dari setapak beton saja, kecuali memang tak tertahan ingin berbasah-basah.

Hutan Mangrove Gili Sulat

Ujung setapak beton di hutan mangrove Gili Sulat.

Kembali ke kapal, boatman menginformasikan akan masih membawa kami ke beberapa spot lain. Tak lama, kami sampai juga di satu celah terbuka dengan dataran. Satu plang berlatar putih bertuliskan nama yang pinggirannya tertutup penuh oleh bakau menandakan kami masih di Gili Sulat. Saat sandar, satu perahu lebih kecil dengan dua bapak nelayan justru sedang ingin kembali. Putra saya tak sabar ingin segera turun. Ombak yang hampir tak ada, pasir putih dan air yang bening membuatnya segera turun sendiri dari ujung perahu, segera setelah bagian terujungnya menyentuh pantai.

Gili Sulat Lombok Timur

Plang nama Gili Sulat di spot berbeda dengan setapak beton.

Hutan Bakau Lombok

Hutan bakau, pantai, laut dan gunung. Dunia serasa lengkap yak.

Ingin segera sampai di Gili Lawang, putra saya yang sudah kadung basah celananya masih harus menahan diri. Dua puluh menit dari spot plang nama Gili Sulat, kami sampai juga di Gili Lawang. Dataran berpasir putih serta sangat sepi karena memang hanya rombongan kami yang sandar di spot ini. Sebelum berkeliling di sekitar, akhirnya saya biarkan putra saya puas me time dengan semua imajinasinya.

Hutan Mangrove Lombok

Kutandai kau sebagai pulau pribadiku! *Eh

Gili Sulat dan Gili Lawang

Pose bareng boatman – Om Sahwan dan dua rekan CS saya.

Gili Lawang Lombok

Sarang kepiting pantai dan burung lukap di sela semak Gili Lawang.

Ditemani boatman, kami memuaskan diri berkeliling. Tak bisa terlalu jauh, karena semak kering dan bakau-bakau kecil cukup menyulitkan. Namun, di pinggiran saja, saya berkesempatan lengkapi koleksi foto cantik dengan karang yang tak saya temui di spot pantai lainnya. Ada juga beberapa gundukan pasir kecil yang menurut info boatman, merupakan sarang kepiting pantai. Sesekali, suara burung terdengar. Bahkan di dekat kami, berloncatan seekor burung bersayap coklat. Sebutan warga dusun untuk burung tersebut, burung lukap. Pasti akan segera meloncat setiap didekati, tak perduli jika itu jam 2 dinihari sekali pun. Hasil croscek dengan browsing, burung ini ternyata jenis trinil pantai (Tringa hypoleucos) pemakan serangga.

Dusun Transad Lombok

Perjalanan kembali ke dusun Transad.

Wah, meski sudah ‘menguasai’ sendiri duo Gili Sulat dan Gili Lawang selama beberapa jam, rasanya kok masih belum puas juga yaaa. Rekan CS saya yang baru menyepakati serunya ide jika camping keluarga di spot ini. Suami saya menyemangati dengan kesediaan membekal set paralatan memancingnya. Jadi, camping semalam dengan banyak pengetahuan tentang hutan bakau dan habitat serta ekosistem didalamnya sangat menggoda sebagai skejul trip berikutnya. Mau?

Mau liburan ke Lombok? Cari di sini: tiket pesawat dan hotel
(Visited 518 times, 1 visits today)


About

Penulis freelance dengan seorang putri dan seorang putra, serta selalu berjuang keras menjadi istri terbaik dunia dan akhirat.


'Damainya Hutan Bakau Gili Sulat Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool