Desa Mas-Mas, Village Based Tourism di Lombok Tengah

Vote Us

“Wisata tidak melulu tentang keindahan alam. Kita bisa membuat objek wisata versi kita sendiri. Yang utama adalah mengemasnya secara  kreatif.” (Pak Habib, founder VBT desa Mas-Mas)

Bagi penikmat wisata, pasti sudah tidak asing mendengat nama air terjun Benang Stokel atau Benang Kelambu di Lombok Tengah. Keduanya terletak di kecamatan Batukliang Utara, Desa Aik Berik. Ditambah lagi wisata Aik Bukak, yang juga berlokasi di kecamatan yang sama. Kawasan utara Lombok Tengah memang kaya air, seperti julukannya: kawasan Aik Meneng (air jernih). Julukan tersebut muncul tidak lain karena kondisi alam yang subur dan airnya yang melimpah. Kawasan ini juga menjadi supplier air dan berbagai hasil hutan. Tapi, apakah sobat pernah mendengar nama Desa Mas-Mas di Lombok Tengah? Meski berada di kawasan yang sama, desa ini nyaris tak dikenal. Pamornya kalah dari desa-desa tetangga yang sudah sejak lama menjadi spot wisata. Itu dulu. Sekarang, Desa Mas-Mas mulai membuat branding-nya sendiri. Bukan hanya menarik wisatawan, desa ini kini jadi acuan belajar bagi daerah lain.

Penasaran? Hehehe..

Saya sendiri baru mendengar tentang keunikan desa ini beberapa bulan lalu. Kemudian berkesempatan ngobrol ringan dengan pak Habib, penggagas village based tour Desa Mas-Mas, tepat sebulan lalu. Berkunjung langsung ke basecamp-nya, dan merasakan dari dekat suasana kampung yang namanya kini semakin sering dibicarakan. Meski tak mengikuti paket tour Mas-Mas, tapi cerita dan foto-foto dari pak Habib cukup menggambarkan keseruan tur ala kampung yang digagasnya.

Okay. Let’s talk about it.

Desa Mas-Mas

Menuju desa Mas-Mas

Dari segi lokasi, Desa Mas-Mas memenuhi syarat “kampung” dalam arti yang sesungguhnya. Lokasinya terbilang relatif cukup dekat dari kota Mataram, well, sekitar 1 sampai 1,5 jam berkendara. Kita bisa sampai di sini mengikuti rute jalan provinsi sampai di perempatan Kopang Lombok Tengah. Belok ke kiri dan ikuti terus jalannya sampai menemukan plang nama desa. Sepanjang jalan, kita akan disuguhi pemandangan hijau persawahan dan perkebunan. Rumah-rumah penduduk jaraknya cukup dekat dan masih terlihat asri. Di beberapa titik, masih ada ruas jalan berbatu. Meski harus hati-hati, ini yang membuat kesan kampung tidak hilang dari desa ini. Terakhir ke sini, sedang ada proses pengaspalan. So you may expect that now the road is better. 

Desa Mas-Mas

Pak Habib (kopiah putih) founder VBT desa Mas-Mas

Berangkat dari mindset “every place is special”, maka di Desa Mas-Mas sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja bisa disulap jadi spesial. Umumnya kunjungan berasal dari wisatawan asing yang ingin merasakan atmosfer kampung. Tapi tidak hanya turis asing, wisatawan lokal pun merasakan greget yang sama saat berkunjung ke sini. Iya, selama tur kita akan merasa menjadi bagian dari warga kampung ini.

Desa Mas-Mas

Sekretariat Kemus (kelompok pengelola VBT)

Setelah mendaftar di sekretariat VBT, tamu akan langsung dipasangkan kain Sasak. Ini sebagai tanda bahwa mereka diterima di kampung tersebut. Tujuan pertama adalah sekolah/madrasah yang ada di Desa Mas-Mas. Jika ditilik kembali, maka first stop ini menjadi semacam simbiosis mutualisme. Wisatawan mendapat pengalaman baru, mengajar, berbagi inspirasi dengan para siswa. Siswa pun bisa praktek berbahasa dan menambah wawasan mereka.

Desa Mas-Mas

Pasang kain dulu yaaa.. (Foto: Habib-VBT)

Desa Mas-Mas

Aktifitas di sekolah (foto: Habib-VBT)

Desa Mas-Mas

Pose bareng pelajar SD (foto: Habib-VBT)

Next, wisatawan akan diajak melihat keindahan alam Desa Mas-Mas. Utamanya melewati jalur persawahan dan embung dao. Hijau di sekeliling, ditambah view gunung Rinjani rasanya bikin wisatawan betah berlama-lama disini.

Desa Mas-Mas

Perjalanan menyusur desa (foto: Habib VBT)

Desa Mas-Mas

Kira-kira mbaknya cerita apaa ya? (foto: Habib VBT)

Uniknya, selalu ada aktifitas tambahan yang dilakukan wisatawan and it happens naturally. Misalnya nih, saat perjalanan, ada warga yang sedang memanjat pohon kelapa. Spontantly, wisatawan ingin mencoba melakukan hal yang sama. Hehe.. lucu kan. Kegiatan yang dilakukan wisatawan bergantung dari aktifitas warga saat itu. Saat musim panen padi, turis yang datang akan ikut berbaur merontokkan bulir padi. Bahkan saat musim tanam baru dimulai, para tamu yang datang pun dengan takjubnya melihat petani yang asyik membajak sawah.

Wisata Desa Mas-Mas

Penasaran membelah kelapa (foto: Habib VBT)

Wisata Desa Mas-Mas

Merasakan jadi petani (foto: Habib VBT)

Berikutnya, wisatawan akan diajak ke kompleks rumah warga di dusun Antak-Antak  yang menjadi perajin ketak. Mereka berinteraksi dengan warga, sambil belajar menganyam ketak. Suguhannya adalah snack alam sesuai musim, semisal jagung, kacang atau ubi rebus.

Desa Mas-Mas

Belajar menganyam ketak (foto: Habib VBT)

Desa Mas-Mas

Istirahat santai di lokasi home industry ketak (foto: Habib-VBT)

Sounds boring? Nope! Bagi wisatawan, hal-hal sederhana macam ini justru memberikan insight baru dan memperkaya wawasan mereka. Keren!

Wisata Desa Mas-Mas

Interaksi dengan warga sambul melihat proses pembuatan keripik (foto: Habib VBT)

Next stop adalah home industry keripik bonggol pisang. Selain melihat langsung pembuatannya, tamu akan disuguhi keripik dan minuman tradisional yang freshly made from kitchen. Biasanya tamu akan disuguhi jus lobe-lobe (tahu kan buah ini?) atau kelapa muda gula merah yang diberi perasan jeruk.

Wisata Desa Mas-Mas

Makan siang ala kampung (foto: Habib VBT)

Terakhir, wisatawan akan santap siang dengan menu khas sasak di rumah warga. Makan berjamaah duduk bersila beralas tikar. Hehe..

Wisata Desa Mas-Mas

Rombongan tur keluarga (foto: Habib VBT)

Wisatawan yang berkunjung ke Desa Mas-Mas umumnya adalah keluarga, orang tua beserta anak-anaknya, pasangan, grup, atau solo traveler yang punya ketertarikan sosio-kultur-edukasi. Penginapan? Bagi tamu yang ingin menginap, maka akan disediakan pilihan home stay di rumah warga. Cukup dengan tambahan IDR 150 K, you’ll get room, dinner, and breakfast.. and of course special moment that might be your once in a lifetime.

Wisata Desa Mas-Mas

Pose bareng rombongan dulu (foto: Habib VBT)

Oya, jika boleh menambahkan, maka paket tour Desa Mas-Mas bisa dikatakan real-time tour. Tak jarang wisatawan datang di momen-momen spesial. Semisal ada warga yang ngongkolan (prosesi pernikahan adat Sasak), maka tamu dipersilakan menjadi bagian dari acara itu. Demikian pula jika ada acara-acara lain: sunatan, roah begawe, dan lainnya. Masyarakat mulai sadar wisata, terbuka untuk wisatawan, tanpa harus khawatir ini-itu.

Desa Mas-Mas

Jalan desa tampak asri

Wisata berbasis kampung ini juga menjadi ajang pemberdayaan masyarakat. Masyarakat menjadi lebih kreatif menemukan hal-hal unik di sekitar mereka yang bisa ditawarkan kepada wisatawan. Kerennya lagi, para pemandu wisata di desa ini sangat fasih berbahasa Inggris. Literally. Mereka semua mendapat kursus dari Kemus (kelompok pengelola VBT) yang diketuai pak Habib. Sejak mulai dibuka di tahun 2012, hingga saat ini peminat wisata berbasis kampung ini terus meningkat setiap tahunnya.

Desa Mas-Mas

Belajar menjadi warga yang sadar wisata (foto: Habib VBT)

Overall, saya pribadi merasa sangat tertarik dengan cara mereka mengemas wisata desa menjadi sesuatu yang punya nilai jual. Ditambah lagi unsur pemberdayaan masyarakat yang pelan-pelan dibangun lewat wisata ini. Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau. Lombok keren!

(Visited 330 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Desa Mas-Mas, Village Based Tourism di Lombok Tengah' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool