Pantai Tlawas Lombok

Doing “The-Art-of-Doing-Nothing” di Pantai Tlawas, Lombok Tengah

Doing “The-Art-of-Doing-Nothing” di Pantai Tlawas, Lombok Tengah
3 (60%) 2 votes

Gak ngapa-ngapain? Jauh-jauh ke pantai cuma buat bengong-bengong aja?

Yes, why not?

Itulah jawaban saya ketika seorang kawan bertanya “di pantai itu ngapain aja?”. Yeap, saya ke pantai itu tak melulu harus snorkeling atau berenang atau untuk misi tertentu. Terkadang, hanya duduk-duduk sambil menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa di pantai itu nilainya priceless. Setidaknya untuk saya pribadi.

Seperti yang saya lakukan tempo hari di Pantai Tlawas. Tapi waktu itu saya tidak sendiri, saya bengong berjamaah alias melakukannya bersama teman-teman blusukan saya.

Pagi itu Sabtu pagi yang sama seperti pagi di akhir pekan lainnya. Libur mennnn!! Dan satu malam sebelumnya saya sudah sepakat bersama 4 orang teman yang sama-sama merantau mencari makan di Lombok memutuskan akan mengisi libur kami dengan mengunjungi sebuah pantai di sisi selatan Pulau Lombok.

Namanya Pantai Tlawas. Lokasinya persis di sebelah timur Pantai Semeti. Yeap, pantai yang beberapa tahun terakhir sedang naik daun di Lombok karena bebatuannya yang unik serupa kryptonite itu. Secara pemerintahan, lokasinya masih masuk Kabupaten Lombok Tengah. Kami memilih pantai ini karena kami berlima sama sekali belum pernah mengunjungi Pantai Tlawas.

Sekitar pukul 8 Waktu Indonesia Tengah kami berangkat dengan bekal makan dan jajan yang cukup tentunya. Untuk dapat sampai ke Pantai Tlawas kami berlima sudah siap memulai petualangan hari ini. Dan sebuah kendaraan roda empat jenis minibus akan mengantar kami ke Telawas. Rute yang kami lewati pagi itu adalah Mataram – Bundaran Gerung – By-pass – Batu Jangkih – Ruwuk – Telawas. Dan perjalanan dengan rute itu membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dengan kecepatan normal. Oh iya, akses jalan yang ditempuh mayoritas sudah cukup baik. Kecuali di 10 menit terakhir ketika memasuki daerah pantai dimana kami harus melintasi persawahan dengan jalan tanah yang sangat buruk. Syukurnya beberapa hari terakhir jarang hujan sehingga tidak becek dan tak terlalu menyulitkan kendaraan yang kami tumpangi.

Sekitar jam 10 kami memasuki daerah pantai, dan kami menitipkan kendaraan pada satu-satunya rumah yang ada di sana. Sebuah rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan jagung ini memang biasanya dimanfaatkan oleh pengunjung, baik yang berniat ke Pantai Semeti atau Tlawas, menitipkan motor atau mobilnya di halaman rumah ini. Setelah parkir kami pun segera berjalan ke arah pantai.

Pantai Tlawas Lombok


penitipan mobil dengan pantai semeti di belakangnya

Pantai Tlawas ternyata tak jauh dari rumah tadi. Hanya berjalan sekitar 50 meter dan kami berlima sudah di ada di pantai.

Pantai Tlawas Lombok

pemandangan yang menyambut kami

Di hadapan kami terbentang sebuah panorama yang luar biasa sempurna. Gugusan batu karangnya mirip Pantai Semeti memang, namun yang membedakannya adalah tak ada hamparan pasir seperti umumnya di pantai-pantai lainnya, juga bukit-bukit kerucut hijau bak cone ice cream terbalik nan hijau. Alamakkk….cantik!

Pantai Tlawas Lombok

miniatur wayag raja ampat, no? 😛


Pantai Tlawas Lombok

Pantai Tlawas Lombok

panorama

Pantai Tlawas Lombok

panorama #2

Ombak saat itu cukup keras menderu menampar-nampar batu-batu “kryptonite” di sisi pantai. Jujur saja, saat itu kami agak khawatir dengan hempasan ombak yang cukup tinggi itu. Namun kami tetap melanjutkan menyusuri pantai ke arah timur (sisi kiri). Langkah yang kami lakukan harus benar-benar berhati-hati dan terukur, karena kami berjalan di atas bebatuan licin dan tentunya tak boleh terlalu dekat dengan hempasan ombak.

Pantai Tlawas Lombok

can u spot the man?

Setelah tak kurang 20 menit kami menyusuri sisi pantai, kami pun memutuskan memilih sebuah spot untuk beristirahat. Jeprat-jepret sejenak kemudian menikmati kudapan dari bekal yang kami bawa dan lalu kami siap untuk ber-bengong-ria. Haha…

Orang Italia bilang “Il Dolce Far Niente” yaitu “the art of doing nothing”, alias seni tidak melakukan apa-apa. Atau seperti judul buku Veronique Vienne “The Art of Doing Nothing : Simple ways to make time for yourself”.

Dibawah teriknya sinar matahari yang menyengat tajam, kami hanya duduk-duduk menikmati suara debur ombak, menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa karya agung Yang Maha Kuasa.

Pantai Tlawas Lombok

hati-hati dengan ombak

Rasanya seperti sebuah meditasi yang sempurna ketika sejenak melupakan semua permasalahan dan utang bejibun beban hidup, mengosongkan pikiran dan hanya fokus pada keindahan yang terpampang di depan mata dan mensyukurinya, karena tak semua orang dapat menyaksikan apa yang kami saksikan siang itu di Pantai Tlawas.

Pantai Tlawas Lombok

Yak.. itulah doing the art of doing nothing versi saya dan teman-teman saya.

Buat kalian, apakah kalian sering melakukan hal yang sama? share dong. 😀

Oh iya, untuk kalian yang ingin ke Pantai Tlawas ini ada beberapa catatan yang perlu kalian perhatikan yaitu tetap waspada ketika di pantai, jangan membahayakan diri demi foto keren, dan pastinya jangan meninggalkan sampah di pantai. Oke? 😀

Dong Ayok ke Lombok!

(Visited 365 times, 1 visits today)


About

blogger yang sangat mencintai lombok. impiannya sederhana, keliling Indonesia untuk menikmati keindahan alam dan budayanya. "menikmati hidup dengan mensyukurinya dan mensyukuri hidup dengan menikmatinya karena hidup itu indah" adalah tagline hidupnya. ^^


'Doing “The-Art-of-Doing-Nothing” di Pantai Tlawas, Lombok Tengah' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool