Fajar di Mantar

Fajar di Mantar
5 (100%) 1 vote
Di atas kapal menuju pulau Sumbawa

Di atas kapal menuju pulau Sumbawa

Sepenggal cerita liburan bersama teman, awalnya temannya teman mengajak pergi berlibur, dan ternyata banyak teman yang lain juga bisa ikutan kami dari Lombok liburan ke pulau Sumbawa, jarak tempuh Sumbawa Lombok menggunakan transportasi laut selama satu setengah jam, tapi berhubung saat itu kapal yang kami tumpangi kata teman itu sudah usia, sehingga lajunya pun pelan sehingga kami menghabiskan waktu selama dua jam. Sesampai di Sumbawa kami langsung di bawa oleh giude ( salah satu teman kami yang sering mengunjungi Sumbawa).

Kami akhirnya sampai di sebuah rumah penduduk. Di sana kami mulai mengatur agenda ke tempat mana yang harus kami kunjungi terlebih dahulu. Sebenarnya kami mempunyai dua tempat tujuan salah satunya adalah Desa Mantar.

Sehubungan dengan laju kapal yang pelan, dan akibatnya transportasi yang sedianya mengangkut kami ke Desa Mantar lama menunggu dan akhirnya pergi meninggalkan kami, tutur bapak yang punya rumah tersebut. Rencanapun berubah, dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat tujuan yang pada awalnya tempat ini akan kami kunjungi setelah dari Desa Mantar. Hari menuju desa Mantar pun tiba, kami kembali ke rumah si bapak untuk menunggu mobil jemputan, tak lama kemudian kami melihat sebuah kijang GLX yang merapat ke arah dimana kami berdiri menunggu, dan benar kijang tersebut adalah mobil jemputan kami.

Dalam perjalanan, bapak sopir seru menceritakan bagaimana sejarah Desa Mantar. “ Desa Mantar adalah salah satu desa di daerah kabupaten sumbawa besar, desa ini berhunikan berbagai macam penduduk yang berasal dari beberapa suku bangsa, dan negara. Ada dari jawa, dan ada juga dari Belanda. Desa ini berada di atas perbukitan yang bisa dibilang cukup memakan waktu bila kita mau kesana, kurang lebih satu setengah jam. Dengan menggunakan “ mobil Ranger” type mobil yang kuat melewati liku liku jalanan terjal dan bebatuan.

Dulunya sebelum akses jalan mulai dibuka, para penduduk di atas bukit sana menggunakan tenaga kuda sebagai alat transportasi mereka karena jalan menuju desa sangat belum memadai.” Cerita pak sopir seketika terhenti saat kami sudah tiba diposko satu. Posko satu adalah tempat menunggu mobil ranger yang akan membawa kami naik ke Desa Mantar.

menunggu mobil ranger di posko 1

menunggu mobil ranger di posko 1

Ranger pun datang, kami disuruh segera naik ke mobil, dalam bayangan, terutama saya pribadi, apa yang diceritakn pak sopir tadi masih absurb. Belum bisa teresentuh oleh alam pikir bagaimana sebenarnya jalanan menuju Mantar. Dan mungkin sama halnya dengan teman-teman yang lain.Pembuktian pun tiba, dalam lama dalam perjalanan, huwawawawaa, seruuu, ngeri, khwatir, deg degan, teriak, tertawa dan doa, silih berganti. Suara kami yang ribut di atas mobil bisa bisa mengganggu isi alam sekitar, kenapa? Ternyata jalanan ke Desa Mantar luar biasa, jalan bebatuan yang belum dirapikan, jalanan curam menjulang tinggi, dikelilingi hutan rimba, tikungan tajam tidak hanya satu dua tapi banyak, sepanjang perjalanan bisa dibilang adu adrenalin. Kami menghabiskan waktu selama satu setengah jam sampai di bukit Mantar.

Bukit Mantar

Bukit Mantar

Kami tidak langsung ke pedesaan karena kami mengagendakan bermalam di perbukitan yang tidak terlalu jauh dari rumah penduduk. Kami sampai dibukit sore hari, sesampai di tempat, kekaguman semakin memuncak, kami bisa melihat keindahan alam dari ketinggan, hamparan perumahan , lahan lahan persawahan seperti petakan keramik yang tersusun rapi. Kami beristirahat bernafas sejenak, lalu kami segera memsang tenda karena malam akan segera tiba.

Suasana malam saat berkemah di atas bukit Mantar

Suasana malam saat berkemah di atas bukit Mantar

Malamnya kami membakar api unggun, menambah semarak malam kami di atas perbukitan. Semalaman bebebrapa teman hanya mengambil beberapa jam untuk instirahat sisanya mereka yang laki laki bertugas meronda keadaan sekitar. Tak lama waktupun berlalu, kami tidak sabar menanti sang fajar yang sebentar lagi akan muncul dari rerimbunan pepohonan di atas bukit.

pose sibuk mengambil gambar

pose sibuk mengambil gambar

Kami siap siap keluar tenda, urusan mandi, lupakan! Hahaha,, kesempatan ,melihat fajar dari atas Mantar tak datang dua kali, so harus take good pictures as many as we can. Let’s go…Masing masing kami sibuk mencari posisi pemotretan menyambut datangnya pagi.

menyambut pagi

menyambut pagi

Akhir cerita, kami akan di jemput tepat jam 11 siang oleh si ranger, kami memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, rencana awal kami akan di jemput di bukit, tapi kurang rasanya kalu kami belum berkunjung ke desa bertemu penduduk. Sebelum kami kedesa kami pergi mencari pohon kenari, karena dulunya bukit Mantar dijadikan salah satu lokasi syuting film indonesia yang berjudul “ Serdadu kumbang” pohon kenari tersebut dikenal dengan nama pohon cita cita.

pohon cita-cita

pohon cita-cita

konon kita bisa menulis cita cita kita lalu kita menggantungnya di pohon tersebut. Setelah menemukan pohon tersebut, moment photo-photo tak lupa , setelahnya kami kembali ke tenda. Kami merapikan tenda dan barang kami, setelahnya perjalanan menuju desa pun kami mulai. Kebetulan ada salah seorang penduduk desa yang bercocok tanam didekat di mana kami berkemah. Si bapak baik hati mengjak kami turun bukit lalu menempuh perjalanan, kami berjalan kaki menuju desa. Kami menghubugi ranger supaya nanti kami di jemput di desa saja. Kami riang gembira berjalan di bawah terik matahari, akhirnya kami sampai di desa, senyum ramah mereka kepada kami, tegur sapa mereka yang seakan akan kami adalah tamu spesial. Desa saat itu ramai sekali, mereka sedang mengadakan lomba lomba dalam rangka perayaan HUT RI-70.

Penduduk Desa Mantar saat HUT RI-70

Penduduk Desa Mantar saat HUT RI-70

Lomba saat HUT RI-70

Lomba saat HUT RI-70

Jam penjemputanpun tiba, ada rasa berat meninggalkan susana ramai dan ramah saat itu, tapi apa mau dikata, sepulangnya kami mulai ramai lagi, kami teriak seru, dan berdoa, jalanan yang kami lewati sebaliknya, waktu pergi kami menanjak dan waktu pulang kami menurun. Serunya perjalanan hingga sampai di posko satu lagi, kami menunggu jemputan untuk kembali ke rumah penduduk desa yang kami temui di awal. Dan akhir cerita kami kembali ke lombok sekitar jam 3 dan sampai rumah sore hari dengan selamat Alhamdulilah . Inilah cerita seru kami, ceritamu mana? Mari berbagi cerita, hello Lombok bloger berbagi cerita dan pengalaman traveling.

Group picture sebelum meninggalkan bukit

Group picture sebelum meninggalkan bukit

(Visited 454 times, 1 visits today)


About


'Fajar di Mantar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool