Gule Gending Lombok, Perpaduan Manisan dan Seni yang Menghibur

Gule Gending Lombok, Perpaduan Manisan dan Seni yang Menghibur
5 (100%) 1 vote

Ahh, ini dia manisan fenomenal yang kehadirannya (dulu) selalu ditunggu-tunggu!

Bagi warga Lombok yang besar di era-90an pasti nggak asing dengan gule gending. Manisan murah meriah ini pernah jadi primadona di zaman itu. Saya masih ingat setiap kali pedagang gule gending melintas di kampung, kami, anak-anak kecil (di zaman itu), akan lari ke rumah minta uang ortu dan bergegas kembali memesan gule gending. What a memory!

Ini dia si manisan gule gending yang fenomenal di zamannya itu :D

Ini dia si manisan gule gending yang fenomenal di zamannya itu 😀

Sekarang, manisan gule gending memang tidak lagi sepopuler dulu, tapi sesekali menjumpa pedagang gula gending di keramaian kota setidaknya menjadi penguat bahwa manisan kece ini masih eksis hingga hari ini.

Gule gending sebetulnya mirip dengan gula putar atau gula kapas. Tahu kan? Manisan yang warnanya pink dan wajib-ada di setiap pasar malam atau keramaian anak-anak. Iya, hanya saja gule gending dijual tanpa stick, tidak dibuat menggelembung, teksturnya tidak sehalus gula kapas, berserat, dan harganya murah meriah. Di era 90an dulu, kita bisa membeli dengan harga 100 perak, sekarang harganya bertambah 0 satu menjadi 1000 perak, atau sesuai request anda.

2

Keunikan manisan ini terletak pada gending alias gendang yang dimainkan penjulnya. Bentuknya unik dengan 6 rombong (laci/ruang) yang biasanya terbuat dari seng atau stainless. Info yang saya peroleh dari seorang teman, pembuat gending dan penjual gule gending hampir semuanya berasal dari Kabupaten Lombok Timur, Kecamatan Aikmel, tepatnya di Dusun Kembang Kerang Daye.

Lalu Satrun, seniman gule gending

Lalu Satrun, seniman gule gending

Membuat gending pun tak sembarangan, masing-masing rombong/laci/kantong dapat menghasilkan nada yang berbeda. Kesulitannya ada pada pengaturan nada di setiap rombong. Ada guratan tipis di pinggir dan tengah rombong, perbedaan posisi guratan yang akan menghasilkan bunyi berbeda. Butuh kejelian untuk membuat bunyi keenam kantong itu cocok satu sama lain. Jika semuanya memiliki bunyi sama, tidak akan terdengar merdu. Seperti senar gitar, masing-masing senar memiliki bunyi khas masing-masing. Sementara itu, pembuatan rangkanya tidak memakan waktu lama, hanya hitungan jam saja. Proses pembuatan gending ini biasanya memakan waktu 3 hari dengan harga 1 sampai 1,5 juta (bahan stainless).

Proses pengerjaan gending

Proses pengerjaan gending

Penjual gule gending adalah para pejuang tangguh. Mereka rela berjualan jauh dari kampung halaman, tidak hanya di seputaran Mataram atau wilayah Lombok lainnya, namun sampai ke luar daerah, seperti Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan. Mereka biasa pulang dalam hitungan minggu atau bulan, atau hanya pada hari-hari besar Islam jika merantau sampai ke luar pulau. Pendapatan? Ah, bukankah rezeki manusia sudah disediakan Tuhan. Tugas manusia hanya menjemputnya. Tidak sedikit penjual gula gending di Aikmel yang hidup cukup lewat manisan ini, bahkan lebih dari cukup sampai bisa menyekolahkan anak-anak ke jenjang kuliah.

Setiap pedagang biasanya saling berkoordinasi untuk menentukan wilayah berjualan

Setiap pedagang biasanya saling berkoordinasi untuk menentukan wilayah berjualan

Meski zaman semakin modern, penjual gule gending tetap konsisten untuk berjualan sambil berjalan kaki. Keluar masuk kampung, mencari lokasi keramaian sambil terus menabuh gending. Saat saya masih kecil dulu, para penjual gule gending akan menabuh lagu-lagu khas Sasak seperti Kadal Nongak . Sekarang saat makin banyak pilihan lagu, maka tabuhan gending mereka makin beragam. Meski demikian, lagu-lagu yang mereka pilih umumnya adalah lagu-lagu Sasak yang memiliki pesan positif.

Terus berjalan sambil menabuh gending

Terus berjalan sambil menabuh gending

Lupakan sejenak perihal rasa gule gending yang kalah saing dengan permen aneka rasa di toko-toko, nikmati tabuhan gendangnya, rasakan seni nan indah yang ditawarkan lewat manisan murah meriah ini.

Jika boleh berkata, bisa jadi para penjual gule gending ini adalah agen-agen seni yang menjaga budaya Sasak, Lombok. Mereka berkeliling mengenalkan Lombok lewat tabuhan gending dan manisnya gula. Manis sekali, bukan?

Gule Gending, semoga tetap eksis sampai nanti

Gule Gending, semoga tetap eksis sampai nanti

Jika berkesempatan ke Lombok dan tanpa sengaja bertemu para penjual gule gending, berhentilah sejenak, beli manisannya, dan nikmati tabuhan musiknya yang unik. Ayo ke Lombok!

(Visited 428 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Gule Gending Lombok, Perpaduan Manisan dan Seni yang Menghibur' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool