pantai pengantung lombok

Hiking Seru ke Pantai Pengantung, Spot“Anti-Mainstream” di Selatan Lombok

Hiking Seru ke Pantai Pengantung, Spot“Anti-Mainstream” di Selatan Lombok
4.13 (82.5%) 8 votes

Dibalik nama Gili Trawangan, Pantai Senggigi, Pantai Kuta Lombok atau Pantai Pink yang sudah terkenal, ternyata Pulau Lombok juga menyimpan spot anti-mainstream yang sangat jarang diketahui orang banyak. Salah satu nya adalah Pantai Pengantung. Apakah teman-teman sudah pernah mendengar nama pantai ini sebelumnya? Penasaran? Kalau belum, simak perjalanan hiking saya ke Pantai Pengantung berikut ini.

Hiking seru ke pantai pengantung

Pantai Pengantung Lombok

Pantai Pengantung

Hari Sabtu, seperti biasa, saya dan teman-teman pergi piknik menikmati keindahan alam Pulau Lombok. Kegiatan piknik ini bagi kami merupakan ritual wajib yang harus dilakukan untuk mengurangi kepenatan setelah letih bekerja. Nah, weekend ini adalah weekend yang spesial, karena saya dan salah seorang teman saya akan mengunjungi salah satu spot keceh dan anti-mainstream yang terletak di selatan Pulau Lombok, yaitu Pantai Pengantung.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00, saya berangkat dari rumah menuju meeting point yang telah kami tentukan sebelumnya. Meeting point kami kali ini yaitu SPBU depan Bandara Internasional Lombok (BIL) tepat pukul 07.00 pagi. Selama perjalanan menuju meeting point, saya dimanjakan dengan pemandangan sunrise yang begitu indah. Saya pun memacu kendaraan saya dengan santai sambil menikmati keindahan sunrise dan segarnya udara pagi. 1 jam kemudian, saya pun tiba di meeting point dan tak lama berselang teman saya pun tiba dengan wajah yang ceria. Setelah sedikit berbincang-bincang, kami pun langsung meluncur menuju pantai yang terletak di Lingkungan Lembah Seruni, Lancing, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah ini. Perjalanan dengan menggunakan sepeda motor dari meeting point menuju tempat ini sekitar 30 menit. Namun, perjalanan kami sedikit tersendat karena adanya pasar tumpah (Pemekenan a.k.a pasar sekali seminggu) yang menyebabkan kemacetan yang cukup panjang.

Suasana menjelang Sunrise dalam perjalanan menuju meeting point

Suasana menjelang Sunrise dalam perjalanan menuju meeting point

Setelah bersabar menunggu kemacetan terurai, akhirnya sekitar pukul 08.00 pagi, kami tiba di Lingkungan Lembah Seruni. Setibanya di sana, kami langsung menuju salah satu rumah warga untuk menitipkan kendaraan kami. Karena sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, jadi saya sudah cukup kenal dengan warga yang ada di sana. Salah satu kenalan saya disana adalah si Subandi. Bocah kelas 5 SD yang selalu setia menemani saya ketika ‘blusukan’ mencari pantai di kawasan Lembah Seruni ini. Oh ya, para warga yang tinggal di Lingkungan Lembah Seruni ini sangat ramah dan bersahabat, selain itu lingkungan di sekitar kawasan ini pun cukup aman. Jadi anda tidak perlu khawatir untuk masalah keamanan.

But, talking about masalah keamanan, sebenarnya tidak ada yang bisa menjamin kita bisa aman 100% ketika traveling ke suatu tempat. Entah itu tempat yang sudah ramai dan terkenal atau tempat yang masih sepi atau jarang dikunjungi. Tapi teman-teman tidak perlu khawatir karena berkaca dari pengalaman pribadi (best experience is the best teacher) ada beberapa hal yang teman-teman bisa lakukan biar travelingnya berasa nyaman, yaitu: be positive (berpikir positif lah kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun), be polite to everyone you meet (bersikap sopan kepada siapapun yang teman-teman jumpai), respect the older people and the local people (hormatilah orang yang lebih tua atau penduduk lokal) dan be simple (berpenampilan sederhana dan tidak menggunakan perhiasan yang berlebihan)

Well, kembali ke cerita, setelah memarkirkan kendaraan dan ngobrol sebentar dengan pemilik rumah, akhirnya saya, si Subandi dan salah seorang teman saya pun memulai perjalanan menuju Pantai Pengantung.

Dari rumah warga tempat kami menitipkan kendaraan, kami harus soft-trekking atau hiking santai selama 5-10 menit melewati perkebunan warga menuju kaki Bukit Penganak dengan trek yang masih datar. Nah, setelah tiba di kaki Bukit Penganak inilah petualangan kami yang sesungguhnya dimulai. Oh ya, karena rasa penasaran yang tak terbendung lagi, suatu hari saya pernah bertanya kepada salah satu warga tentang asal-usul nama Bukit Penganak ini. Menurut penuturan salah seorang warga, bukit ini dinamakan Bukit Penganak karena konon katanya pada zaman dahulu ada seorang ibu-ibu yang sedang hamil tua berjalan pulang melewati bukit ini setelah mengembalakan kerbaunya. Di tengah perjalanan pulang, si ibu yang tengah hamil tua tiba-tiba sakit perut ingin melahirkan. Karena tempat tinggalnya masih cukup jauh, akhirnya si ibu melahirkan di puncak bukit dengan bantuan kerabatnya. Jadilah namanya Bukit Penganak dimana Nganak dalam Bahasa Indonesia artinya melahirkan.

Alright, back to the story, dari kaki bukit, kami harus menyusuri jalan terjal dan menanjak menuju puncak bukit. Kondisi track nya cukup menantang dengan kontur berupa bebatuan dan tanah yang gembur dan kadang lengser ketika diinjak. Selain itu, track nya juga dipenuhi semak-semak yang cukup rimbun. So, kami harus melewati medan yang menanjak ini dengan sangat hati-hati supaya tidak terperosok. Nah, waktu tempuh untuk mencapai puncak bukit kira-kira sekitar 35-45 menit (tergantung kondisi fisik).

Trek menuju puncak bukit

Trek menuju puncak bukit

Karena saya dan teman saya sudah lama sekali tidak memanjat bukit atau mungkin karena kami jarang olahraga, jadi perjalanan kami menuju puncak bukit sedikit lamban. Setiap 10 menit kami harus berhenti untuk istirahat. Berbeda dengan si Subandi, dia sudah jauh menghilang di depan kami dan telah lebih dulu tiba di puncak bukit padahal dia jauh lebih kecil daripada kami dan tidak menggunakan alas kaki sama sekali. Selama perjalanan menuju puncak bukit, walaupun merasa kelelahan tapi kami sedikit terhibur, karena selama perjalanan mata kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat memukau, yaitu pemandangan bukit-bukit yang hijau nan asri. Sangat-sangat menyegarkan mata.

Si Subandi

Si Subandi

 

View dalam perjalanan menuju puncak bukit

View dalam perjalanan menuju puncak bukit

Finally, dengan keringat yang bercucuran, kami pun tiba di puncak Bukit Penganak. Oh ya, puncak Bukit Penganak ini terdiri dari padang rumput yang landai dan luas serta terdapat banyak tumbuhan semak. Para penduduk yang kebanyakan merupakan petani dan peternak, mengembalakan kerbau-kerbau mereka di puncak bukit ini. Tidak heran, ketika kami berada di puncak bukit ini, kami menemukan banyak sekali kerbau yang sedang mencari makanan. Dari puncak bukit ini juga terlihat pemandangan alam berupa laut biru yang terhampar luas dengan indahnya di depan kami. Selain itu, kami juga melihat sebuah batu raksasa yang dikenal dengan nama Gili Gansing/Gili Batu Payung berdiri dengan kokohnya ditengah hantaman ombak.

Puncak Bukit Penganak dan pemandangan sekitarnya

Puncak Bukit Penganak dan pemandangan sekitarnya

Karena masih sedikit kelelahan, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menyantap beberapa makanan ringan dan minuman yang kami bawa sambil menikmati panorama alam yang sungguh indah ini. Dan tentunya tak lupa juga mengambil beberapa foto. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Dari puncak bukit ini, kami harus menuruni lembah dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit untuk dapat mencapai pantainya. Perjalanan menuruni bukit menuju pantai tidaklah terlalu berat karena medannya tidak lagi menanjak. Tapi di beberapa bagian kami harus berhati-hati karena banyak semak-semak yang cukup tajam dan bisa menggores kulit. Oh ya, FYI, di kawasan Pantai Pengantung ini belum ada fasilitas umum seperti penginapan, tempat makan, atau toilet. Jadi buat teman-teman yang ingin mengunjungi tempat ini harus membawa bekal sendiri dari rumah atau teman-teman yang ingin camping harus membawa peralatan camping sendiri dari rumah.

Perjalanan menuruni bukit menuju pantai

Perjalanan menuruni bukit menuju pantai

Oh, God! here we are! Kami pun tiba di Pantai Pengantung. Perjalanan yang panjang melewati perbukitan yang berliku akhirnya terbayar lunas! Pemandangannya benar-benar menakjubkan. Kami sangat-sangat dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah. So speechless!

View Pantai Pengantung

View Pantai Pengantung

 

View Pantai Pengantung

View Pantai Pengantung

Begitu tiba, kami kemudian duduk di atas sebuah batu besar menikmati makanan dan minuman yang kami bawa sambil sesekali mengambil foto. Angin sepoi-sepoi yang sejuk, pemandangan alam yang begitu indah ditemani makanan dan minuman favorit, benar-benar surga dunia. Tidak ada kebisingan, tidak ada orang lain, hanya ada kami dan alam. Begitu syahdu!

Pantai Pengantung ini diapit oleh perbukitan di kedua sisinya dan didominasi oleh bebatuan dengan ukuran yang beraneka ragam. Pantai ini memiliki garis pantai yang panjang dan hanya terdapat sedikit bagian pantai yang berpasir. Bagian pantai yang berpasir ini memiliki pasir yang halus dan berwarna putih agak kecoklatan. Air lautnya bersih dan bening. Ombak disekitar pantai ini pun cukup tenang namun sangat besar dibagian pantai yang berbatu. Di sudut sebelah kiri pantai, terdapat cekungan batu berbentuk kolam yang agak dalam yang bisa dijadikan tempat berendam yang asik. Selain itu, pantai ini menurut penuturan warga setempat merupakan spot memancing yang sangat luar biasa karena terdapat banyak ikan dengan ukuran besar yang siap menyantap umpang pancing anda. So, buat teman-teman yang hobi memancing, kami menyarakankan untuk membawa pancing ketika mengunjungi pantai ini. Oh ya, satu lagi, bagi teman-teman yang hobi fotografi alias jeprat-jepret maka wajib mengunjungi pantai yang satu ini karena pantai ini merupakan spot yang sempurna untuk hunting foto terutama foto landscape. Bukitnya, pantainya, batu-batu nya, ombaknya, so perfect! Dan bagi teman-teman yang aktif di sosmed terutama instagram, maka kudu wajib kesini. Dijamin feed instagram nya makin kece.

View Pantai Pengantung

View Pantai Pengantung

 

View Pantai Pengantung

View Pantai Pengantung

Puas mengabadikan keindahan alam pantai yang terletak sekitar 65 KM ke arah selatan Kota Mataram ini, kami pun mulai mengeksplor setiap sudut keindahan pantainya. Pertama-tama, kami mengeksplor sebelah kanan pantai yaitu bagian pantai yang berpasir. Disini, kami langsung mengganti kostum dan langsung berenang di pantai. Airnya terasa sangat segar dan badan kami yang berkeringat kembali bugar. Puas berenang, kami menaiki bebatuan yang menjorok ke laut dan mengambil beberapa foto lagi sebagai kenangan. Puas menikmati bagian pantai sebelah kanan, kami pun beranjak menuju bagian pantai sebelah kiri. Bagian pantai sebelah kiri ini di dominasi oleh bebatuan dengan tebing-tebing batu yang menjulang tinggi di sisi bukit. Ombak disini pun lumayan besar, jadi kalau teman-teman berkunjung kesini harus berhati-hati ya. Di balik sebuah batu, terdapat sebuah cekungan batu atau kami menyebutnya kolam alami yang cukup dalam. Tanpa pikir panjang, kami pun langsung nyebur ke dalam kolam. Sensasi berendam di dalam kolam ini rasanya seperti menikmati private Jacuzzi. Airnya yang bening, bersih dan segar membuat kami betah berlama-lama berendam di dalam kolam alami ini. Oh ya, ada satu hal lagi yang sangat mengasyikkan ketika berendam di kolam ini, yaitu sensasi ketika di hantam ombak. Pada saat berendam di kolam, selang beberapa menit, akan ada ombak besar yang menghempas. Sensasinya benar-benar luar biasa dan memacu adrenalin. Bagi teman-teman yang suka dengan tantangan maka kegiatan yang satu ini wajib dicoba.

Bermain air dan berenang di pantai

Bermain air dan berenang di pantai

 

Salah satu bebatuan di pantai pengantung

Salah satu bebatuan yang menjorok ke laut

 

Berendam di kolam pantai pengantung

Berendam di kolam pantai

 

Berendam di kolam pantai pengantung

Berendam di kolam pantai

 

Sensasi di hantam ombak di pantai pengantung

Sensasi di hantam ombak ketika berendam

Keasyikan berendam, kami tidak menyadari bahwa waktu sudah mulai beranjak siang. Jadi, saya dan teman saya memutuskan untuk berganti kostum dan pulang. Sebenarnya kami belum puas berendam di kolam ini, tapi apa daya waktu belum mengizinkan. Setelah mengganti kostum, saya dan teman saya mengambil foto untuk terakhir kalinya sebelum beranjak pulang. Setelah semua selesai, kami pun mulai berjalan pulang dengan riang gembira dan dengan bathin yang terpuaskan.

Itulah Pantai Pengantung, spot anti-mainstream yang terletak di selatan Lombok, yang pesonanya begitu memanjakan mata dan membuat bathin terpuaskan.

Sekian!

TIPS:

  1. Berangkat sepagi mungkin mengingat jauhnya jarak yang ditempuh.
  2. Waktu terbaik untuk berkunjung yaitu pukul 07.00-15.00 pada musim panas. Hindari datang pada musim hujan.
  3. Bawa bekal makanan dan air minum yang cukup.
  4. Bawa peralatan P3K dan kebutuhan lainnya yang dianggap perlu.
  5. Gunakan sepatu/sandal yang cocok untuk trekking.
  6. Bawa baju ganti dan dry bag.
  7. Bawa uang tunai yang cukup dengan pecahan kecil.
  8. Jika ragu, Gunakan Penduduk Setempat (GPS)
  9. Jangan meninggalkan sampah.
(Visited 1,527 times, 1 visits today)


About

Son of the Beach


'Hiking Seru ke Pantai Pengantung, Spot“Anti-Mainstream” di Selatan Lombok' have 8 comments

  1. May 20, 2016 @ 8:40 am Eliyan

    Setil sekali tempat inii.. Mau saya diajakin kesini bang Lutfi 😀

    Reply

  2. May 20, 2016 @ 8:52 am BunSal

    Keren, keren, keren…Apalagi?

    Reply

    • August 15, 2016 @ 12:28 pm Loetfi ONO

      Banyak Bun pantai yg mash tersembunyi di selatan… tinggl tunjuk peta, sy siap mengantar..

      Reply

  3. May 20, 2016 @ 9:02 am eka

    mauuu kesiniiiiii

    Reply

  4. July 6, 2017 @ 8:51 pm Icak.sembada

    Wah kpn2 pingin ikut ngetrip… kebetulan sering jg ngetrip bareng ma tmn2 k spot2 yg baru.

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool