Jangan ke Lombok (Nanti Gak Mau Pulang) ~ Movie Review

Jangan ke Lombok (Nanti Gak Mau Pulang) ~ Movie Review
5 (100%) 1 vote

Muda itu KREATIF. Yes? YES!

Satu lagi yang keren dari Lombok. Iya, nggak cuma destinasi wisata pulau Lombok doang yang lagi ngehits, anak-anak muda Lombok pun makin hits dan kreatif. Ngomongin kreasi anak muda memang nggak ada habisnya. Saban hari selalu ada komunitas-komunitas muda yang bermunculan; di bidang seni, olahraga, sosial, travel, and so onyou name it. Karya-karya anak muda pun selalu ditunggu kehadirannya. Kalau dalam bahasa Sasak, yahh anak muda itu SETIL (setil = cool/keren/hebat).

Poster JKL The Movie (photo  credit: JKL Team)

Poster JKL The Movie (photo credit: JKL Team)

Nah, kali ini saya pengin posting review film karya anak muda Lombok, “Jangan Ke Lombok (Nanti Gak Mau Pulang)” disingkat menjadi JKL The Movie garapan Symphony Creative bekerjasama dengan Ganeza HD. Film ini sudah bikin heboh sejak awal digarapnya di pertengahan tahun 2014. JKL digadang-gadang bisa jadi ajang promosi wisata Lombok tanpa kehilangan jiwa muda dari segi cerita. Film yang minim budget tapi nggak murahan.

Crew JKL The Movie (Photo credit: JKL Team)

Crew JKL The Movie (Photo credit: JKL Team)

Kesan pertama saya muncul dari pemilihan judul yang unik dan bikin orang penasaran. Paling nggak ketika mendengar judul film ini, publik akan berfikir:

“Sekeren apa sih Lombok sampe bisa bikin wisatawan nggak mau pulang?” Gotcha!

JKL The Movie yang disutradarai oleh Dwiyanto Achmad Fiqri bercerita tentang 3 sekawan (Ableh, Vira, Lalu Mandra) dari Lombok yang ketinggalan pesawat saat hendak berlibur ke Bali. Mereka bertemu dengan 2 sekawan (Debby dan Vania) dari Jakarta yang baru saja mendarat di Lombok, ketinggalan koper, dan nggak tahu harus ngapa-ngapain.

Casting JKL The Movie (photo credit: JKL Team)

Casting JKL The Movie (photo credit: JKL Team)

Karena pulang ke rumah masing-masing bakal malu-maluin, alhasil mereka meminta salah seorang teman (Nato) untuk kembali menjemput mereka di BIL. Keempat sekawan ini kemudian berbaik hati menawarkan Debby dan Vania untuk ikut bersama mereka mengeksplor pulau Lombok.

Yihaaaa.. petualangan pun dimulai!

Inti cerita ada pada perjalanan 6 sekawan mengeksplor destinasi wisata di Lombok. Destinasi wisata di Lombok digambarkan dengan sangat apik di film ini; Batu Payung, Tanjung Aan, Pantai Pink, dan air terjun Mangku Sakti adalah beberapa spot yang menjadi lokasi pengambilan gambara film berdurasi 145 menit ini. Teknik pengambilan gambar yang baik bakal bikin mupeng mereka yang belum pernah ke Lombok. Dan ternyata, Lombok dalam moving picture terlihat makin eksotis yah.

Survey lokasi JKL The Movie (photo  credit: JKL Team)

Survey lokasi JKL The Movie (photo credit: JKL Team)

Setting lokasi JKL The Movie (photo  credit: JKL Team)

Setting lokasi JKL The Movie (photo credit: JKL Team)

Karakter pemeran dalam JKL dibuat beragam dan saling melengkapi. Ketiga tokoh cowok punya karakter yang unik. Lalu Mandra yang polos lucu, Ableh yang sok petualang dan rada konyol, dan Nato si bijak yang nasionalis. Sementara itu tiga tokoh cewek pun punya karakter yang tak kalah menarik. Vira tomboy dan easy going, Debby yang manja, dan Vania yang hobi menulis. Sepanjang film ini pun dibuat dengan guide narasi “cerita ala diary”  yang ditulis Vania.

Tokoh Nato punya kebiasaan membawa bendera merah putih kemana-mana untuk ditancapkan di setiap tempat yang mereka kunjungi. Alasannya simpel:

“biar dunia tahu, kalo tempat keren ini punya Indonesia!”

*Thumbs up buat Nato!

Konflik di film ini muncul saat rombongan traveller ini terpecah akibat pertengkaran antara Nato dan Ableh. Yes, we all know, traveling adalah cara paling ampuh buat mengenal teman/sahabat/ atau siapapun travel mates kita, dari yang menyenangkan sampai menyebalkan. Akhirnya mereka baikan lagi setelah menyadari bahwa persahabatan mereka yang sudah terjalin lama jauh lebih penting daripada sekedar gengsi atu marah-marah sesaat.

Unsur komedi yang ada di JKL The Movie juga bisa banget bikin penonton ketawa. Dialog-dialog dan logat khas Sasak kental banget di film ini. Yaa, semacam mendengar percakapan sehari-hari khas orang Lombok yang sering dibilang unik karena susunan katanya seakan terbalik, (ayok dong menjadi dong ayok!, kamu gitu ya orangnya menjadi gitu ya kamu orangnya, hahaha) plus kata-kata khas yang populer lainnya semisal, NGAWAK! (ngawak=ngawur).

Mangku Sakti, salah satu lokasi shooting JKL The Movie

Mangku Sakti, salah satu lokasi shooting JKL The Movie

Tak ada gading yang tak retak. Saya pribadi ngasi dua jempol buat JKL The Movie. Film ini sudah jauuuh lebih keren dari beberapa film indie dengan muatan wisata Lombok yang pernah ada. Komentar saya ada pada alur cerita dan durasi waktu. Dengan durasi yang cukup panjang, 145 menit, alur cerita bisa dibuat lebih menarik tanpa harus terkesan monoton dan datar. After all, JKL The Movie KEREN! Menghasilkan sebuah karya nggak gampang, so salute to all JKL crew!

Oya, satu lagi, soundtracknya bikin nggak kuat! Pilihan lagunya pas banget dan membuat penonton serasa sedang dalam suasana liburan. Ipank memang secara eksklusif memberi izin lagu-lagunya dijadikan soundtrack JKL. Poin plus plus plus.

Suasana nonton bareng JKL The Movie

Suasana nonton bareng JKL The Movie

Numpang eksis di pemutaran JKL The Movie

Numpang eksis di pemutaran JKL The Movie

Penasaran pengin nonton? Tunggu pemutaran edisi berikutnya ya!

(Visited 1,599 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Jangan ke Lombok (Nanti Gak Mau Pulang) ~ Movie Review' have 1 comment

  1. June 13, 2015 @ 10:20 am pramanafajri

    wwoooooowwww ye gatti iku jekn, dimana ne tempat pemutarannya lagi,

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool