Lenek, Desa Budaya di Lombok Timur

Vote Us

Di awal bulan September, timeline facebook saya penuh dengan postingan event Bulan Budaya Lombok Sumbawa #BBLS2016. Aneka jenis kegiatan seni digelar di berbagai lokasi, tersebar mulai dari kota hingga kabupaten. Pilihan atraksi yang bisa disaksikan pun beragam, dari jazz internasional hingga musik dan tari tradisional. Satu diantaranya adalah festival Paer Lenek.

Festival Paer Lenek sudah menjadi acara rutin sejak 3 tahun terakhir. Dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat Lenek. Di 2016, kegiatan ini dilirik pemerintah dan dijadikan salah satu agenda #BBLS2016.

Promo online Festival Paer Lenek (foto: Chepy)

Promo online Festival Paer Lenek (foto: Chepy)

Bagi saya yang lebih menarik adalah desa “Lenek” yang membuat branding sendiri dan mulai dikenal dengan keberadaan ”Rumah Budaya Paer Lenek”. Ada cerita menarik apa tentang Lenek? Kegiatan seni apa yang dilakoni masyarakatnya? Bagaimana mereka bertahan di tengah gempuran modernitas?

Lenek.. (Foto: Chepy)

Lenek.. (Foto: Chepy)

Sedikit dari yang saya tuliskan berikut adalah hasil ngobrol dengan salah seorang yang paham benar soal Lenek. Ahh..mungkin baiknya, kita (including you!), menulis Lenek dalam daftar must-visit place di Lombok. Seperti kata teman saya, “you will fall in love with it, no doubt!” Oya, Lenek secara administratif menjadi salah satu desa di kecamatan Aik Mel, Lombok Timur. No worries, it takes you only 2-2,5 hours drive from the city, Mataram.

Sejak kapan masyarakat Lenek berkesenian? 

Dari cerita para tetua desa Lenek, ternyata seni sudah mendarah daging dalam sendi kehidupan mereka. Kegiatan seni telah subur bahkan sejak zaman Soekarno masih memimpin. Saat itu, seniman Lenek sudah sering tampil di acara-acara besar tingkat nasional bahkan Internasional. Malah ada juga yang pernah menjadi utusan Indonesia untuk acara budaya di Jepang, Amaq Raya, namanya. Maestro seni Lenek ini multi-talent. Tari, musik, wayang, drama semua dilakoninya. Ia menjadi salah seorang penggubah aneka tari tradisional yang kini menjadi icon Rumah Budaya paer Lenek.

Amaq Raya: tua, tetap berkarya (foto: Fathul)

Amaq Raya: tua, tetap berkarya (foto: Fathul)

Bagaimana masyarakat menjalankan kegiatan seni di Lenek?

Tentunya ini bikin penasaran. Bagaiamana tidak, teman saya terbilang sangat sering meng-update kegiatan seni di Lenek. Bukan tahunan, tapi mingguan. Nah, dari ceritanya, saya tahu bahwa kegiatan seni di Lenek berkembang lewat sanggar. Sanggar seni disini bukan sanggar besar yang komersil, tapi sanggar-sanggar kecil yang mengambil tempat di rumah-rumah warga dan senantiasa ramai oleh aktifitas latihan. Regenerasi terus berjalan. Anak-anak, muda-mudi, berlatih hampir setiap hari. Latihan biasanya dilakukan sore hari atau selepas mengaji. Yang melatih adalah muda-mudi yang usianya lebih tua. Sampai saat ini ada sekitar 7 sanggar yang terus aktif. Hebatnya, meski zaman makin modern, semangat mereka untuk melestarikan seni daerah patut diacungi jempol. Keren!!

Kegiatan sanggar pemuda (foto: page RB Paer Lenek)

Kegiatan sanggar pemuda (foto: page RB Paer Lenek)

Dari generasi ke generasi (foto: Fathul)

Dari generasi ke generasi (foto: Fathul)

Rumah Budaya Paer Lenek, apa?

Mengingat sanggar-sanggar yang terus aktif. Minat muda-mudi yang tetap terjaga, maka di tahun 2012 kelompok masyarakat ber-ide untuk membangun wadah yang tidak hanya berfungsi menguatkan ikatan, namun juga menjadi corong Lenek hingga ke luar. Ke luar negeri sekalipun. Hehehe..

Nah, lahirlah Rumah Budaya Paer Lenek. Hingga kini Rumah Budaya ini menjadi semacam basecamp; ajang kumpul, temu sanggar. Kegiatan rutin digelar hampir setiap minggu (biasanya saat weekend) Pengurus juga aktif melakukan kegiatan promosi untuk mendukung para seniman. Alat musik dan kegiatan sanggar didukung aktif oleh Rumah Budaya. Sungguh sinergi yang luar biasa!

Koleksi Rumah Budaya Paer Lenek (foto: Fathul)

Koleksi Rumah Budaya Paer Lenek (foto: Fathul)

Seni di Lenek, apa saja? 

Tiap-tiap sanggar di Lenek punya ciri khas masing-masing. Ada yang menonjol di musik, ada yang tari, ada juga wayang. Tari dan musik pun ada cabang-cabangnya lagi. Berbagai tari tradisional digubah oleh maestro lokal (kelas internasional), yang tak jarang idenya muncul dari hal-hal sederhana di sekitar. Misalnya, tarian Gagak Mandik yang lahir saat Amaq Raya melihat aktifitas burung gagak yang tengah mandi, bermain air. Salah seorang budayawan, Salman Faris, yang pernah saya tanyai (dulu sekali), mengatakan bahwa hampir seluruh tarian lokal ini menggambarkan kearifan agraris. Maksudnya agar masyarakat tidak lupa bahwa alam telah menyediakan semua untuk manusia. “Tarian-tarian ini sebagai pengingat kalau manusia tidak bisa lepas dari alam,” jelasnya.

Tari Gagak Mandi (foto: Page RB Paer Lenek)

Tari Gagak Mandi (foto: Page RB Paer Lenek)

Cantik gemulai (foto: page RB Paer Lenek)

Cantik gemulai (foto: page RB Paer Lenek)

Selain tari Gagak Mandik, ada juga tari Jampring, Gandrung, Dara Ngindang, sampai tari Pakon–ritual magis (umumnya untuk pengobatan)– yang sudah hampir punah di Lombok. Kesenian populer semacam Gendang Beleq atau peresean pun tak luput jadi atraksi wajib di Lenek.

Cantik berbakat (foto: Chepy)

Cantik berbakat (foto: Chepy)

Kostum pun jadi hal penting (foto: page RB Paer Lenek)

Kostum pun jadi hal penting (foto: page RB Paer Lenek)

Jika sudah puas dengan tarian, kita bisa menyaksikan seni wayang sasak atau seni pentas. Seni pentas khas Lombok inipun sudah sangat jarang digeluti masyarakat. Salah satu yang paling populer adalah Cupak Gerantang. Saya sendiri sudah tidak pernah menyaksikan lagi pentas ini sejak kali terkahir di zaman SD dulu.

Atraksi Gendang Beleq (foto: page RB Paer Lenek)

Atraksi Gendang Beleq (foto: page RB Paer Lenek)

Seni tak kenal usia (foto: page RB Paer Lenek)

Seni tak kenal usia (foto: page RB Paer Lenek)

Aktifitas seni di Lenek terbuka untuk siapa saja. Jadi jika sesekali berkeliling Lombok, silakan mampir ke sanggar-sanggar yang ada. Dalam beberapa kesempatan, seniman Lenek juga bisa diminta menyiapkan sajian pertunjukan jika ada wisatawan yang bertandang.

Festival Paer Lenek penuh penonton (foto: page RB Paer Lenek

Festival Paer Lenek penuh penonton (foto: page RB Paer Lenek)

Komplit kan?

Kurang lengkap rasanya jika ke Lombok hanya menikmati wisata pantai, gunung, air terjun, atau gili. Put this on your list! Stay with locals, watch the performances, embrace the atmosphere. For sure, Lenek bisa jadi salah satu destinasi kece liburan anda! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 437 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Lenek, Desa Budaya di Lombok Timur' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool