Membaur di Maulid Adat Bayan, Tradisi Adat Lombok (Part II)

Membaur di Maulid Adat Bayan, Tradisi Adat Lombok (Part II)
Vote Us

Ayo ke Lombok! Masih dengan Tradisi adat Lombok yaitu Maulid Adat Bayan.

Sebelum baca postingan ini, ada baiknya Ezytravelers baca dulu bagian pertamanya yah.

Masih dengan suasana maulid di Karang Bajo, Bayan, Lombok Utara. Saya dan teman-teman sudah memakai baju adat di sana. Kami menungu prosesi berlangsung sembari duduk berleyeh-leyeh di atas berugak. Tiba-tiba salah seorang teman saya berteriak dari kejauhan “Kerbaunya sudah mau disembelih”, saya langsung tergopoh-gopoh turun dari berugak dan berlari ke arah kerumunan para lelaki yang mengikuti ritual maulid ini.

Mengenal Lebih Dekat Masyarakat Adat Melalui Tradisi Maulid Adat Bayan, Lombok

 

Tradisi Adat Lombok

sembelih kerbau

Lelaki-lelaki Sasak yang dengan sergap bergotong royong, dari sini terlihat betapa mereka sangat bersatu dan saling bahu membahu. Sebagian dari mereka sedang  di area halaman Kampu (tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat adat Bayan), mereka sedang memotong sayur dan mengolah bahan makanan yang nantinya akan dimasak untuk makan bersama. Uniknya yang meracik bumbu adalah kaum lelaki. Dengan telaten mereka membersihkan dan memotong-motong bahan makan yang akan diolah.

Tradisi Adat Lombok

para kiai, berisap menyembelih kerbau, kambing dan ayam

Ini ada potret masyarakat adat suku Sasak Lombok yang seharusnya tetap dijaga kearifan lokalnya. Saya dan seorang teman saya yang juga seorang wanita, agak sedikit meringis melihat kerbau yang terikat dan tergeletak tak berdaya menunggu lehernya disembelih. Kami segera ke area dimana para perempuan bersiap untuk mencuci beras. Sedikit susah melangkah memang dengan pakaian yang saya kenakan, maklum biasa pakai celana atau rok lebar, belum terbiasa mengenakan kemben. hihihi… Saya mencoba berbaur dengan tradisi adat Lombok.

Tradisi Adat Lombok

para inaq bekumpul

Kami memasuki area memasak (dapur), perempuan Suku Sasak tampak terlihat anggun dan nuansa etnik sangat kental dalam diri mereka. Sembari menunggu kerbau, kambing dan ayam disembelih, para perempuan menyiapkan beras-beras yang akan dicuci. tentu saja, sebagian dari mereka ada yang sudah menyiapkan tungku untuk menanak, ada yang sedang mengupas kelapa beserta beberapa lelaki yang turut membantu.

Tradisi Adat Lombok

berbaris hendak ke sungai

Tak lama kemudian, beberapa perempuan masyarakat adat langsung berbaris dengan wadah berisikan beras-beras yang akan mereka cuci. Saya dan teman saya yang tadinya duduk berbaur dengan inaq-inaq (ibu-ibu) langsung berdiri untuk mengikuti ke arah mana para perempuan-perempuan ini akan menuju. Dengan sedikit terseok-seok tanpa beralaskan kaki, saya mengikuti mereka. Ini memang tradisi adat Lombok, dan saya senang melihat mereka mempertahankan hal ini.

Tradisi Adat Lombok

turun menuju sungai

Setelah berbaris dengan rapi dan berkumpul semua, dengan berjalan sedikit agak cepat mereka menuju sungai. Saya dan beberapa tamu wisatawan dan photographer pun ikut serta mengikuti mereka bagai iring-iringan. Menyebrang jalan, melewati lorong kecil, menyebrang jalan lagi dan akhirnya berjalan ke sebuah jalan menurun yang menuju sungai. Saya sangat kagum dengan para perempuan ini, bahkan walaupun saya berpakaian seperti mereka tak menjadikan saya sama dengan mereka.

Tradisi Adat Lombok

mencuci beras di sungai

Jalan yang sedikit licin dan agak terjal. Dengan wadah berisikan beras sekitar 5 – 10 kilogram, mereka junjung di atas kepala. Sesampainya di sungai, mereka langsung mencuci beras yang mereka bawa dengan air sungai yang sagat bening. Saya memperhatikan cara mereka yang begitu tradisional. Biasanya mencuci beras cukup di westafel dan menanaknya dengan rice cooker, melihat mereka saya semakin kagum saja.

Tradisi Adat Lombok

masyarakat adat bayan

Tidak terlalu memakan waktu yang lama. Mereka segera bergegas untuk segera kembali ke desa. Perlahan dan cukup hati-hati langkah mereka meniti setiap pijakan tanah yang terjal. Tiba di desa, mereka memasuki area memasak dan menanak nasi. Hari semakin sore dan semakin masyarakat adat disibukkan dengan beberapa rangkaian acara untuk berlangsungnya acara puncak di Maulid Adat Bayan ini.

Tradisi Adat Lombok

tokoh bayan

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel lombok, tour murah, dan tiket pesawat

Saya segera mencari teman-teman saya yang terpisah. Saking banyaknya orang, saya hampir seperti anak hilang. Sebuah pesan masuk dalam ponsel saya, bahwa acara Praje segera mulai di mesjid Kuno tak jauh dari desa adat. Saya bergegas ke sana setelah berkumpul dengan teman-teman. Beberapa tokoh sudah duduk di serambi mesjid dan menyampaikan beberapa patah kalimat sebagai bentuk ucapan terima kasih dan syukur karena berlangsungnya maulid adat Bayan yang merupakan tradisi adat Lombok.

 

Tradisi Adat Lombok

iringan musik tradisional

Tradisi Adat Lombok

praje

Masyarakat tumpah ruah, hari semakin petang, rombongan praje memasuki area mesjid kuno. Mereka membawa nampan-nampan sebagai bentuk ucapan syukur. Sayangnya, seorang teman menggeret tangan saya. Dia mengajak saya dan yang lain untuk segera kembali ke kota Mataram. Cukup disayangkan karena kami tidak mengikuti ritual Adat Bayan sampai selesai tengah malam. Tapi saya cukup senang bisa berbaur dengan masyarakat adat dan merasakan sensasi memakai pakaian adat mereka serta ikut berbondong-bondong ke sungai dan melihat banyak sekali kearifan lokal mereka yang patut dipertahankan. Eh, itu yang berkunjung dan menikmati wisata Lombok, tolong sampahnya dibuang pada tempatnya ya!

Salam Cihuy~

(Visited 78 times, 1 visits today)

About

Simply Complicated


'Membaur di Maulid Adat Bayan, Tradisi Adat Lombok (Part II)' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool