“Memerawani” Pantai Tanjung Poroq, Lombok Timur

“Memerawani” Pantai Tanjung Poroq, Lombok Timur
4.5 (90%) 2 votes

Pernah gak teman-teman berpetualang menemukan spot pantai baru? Atau sebagai orang pertama yang mengunjungi spot pantai tersebut? Atau pernahkah teman-teman merasakan sensasi kenikmatan berada di suatu spot pantai yang mana disana cuma ada teman-teman dan gak ada orang lain?

Well, kalau belum, saya akan menuliskan kisah petualangan saya “memerawani” sebuah spot pantai yang terletak di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Nama pantainya adalah Pantai Tanjung Poroq.

Pernah dengar? Yah, mungkin bagi sebagian kecil orang yang hobi blusukan pernah dengar atau pernah mengunjungi spot yang satu ini, namun bagi sebagian besar orang mungkin pantai ini masih terdengar sangat asing. Yup, itu karena spot pantai yang satu ini terletak di daerah perbukitan dan tersembunyi dibalik tebing yang terjal dan bahkan akses jalan menuju spot ini masih kacau balau dan hancur lebur. Jadi ya mungkin tidak mengherankan kalau masih terdengar asing.

Weekend kali ini, sebenarnya, saya ingin isi dengan berleha-leha di rumah, mendengarkan musik favorit, menyeruput kopi item dan melanjutkan membaca salah satu novel yang sudah lama saya terlantarkan. Needless to say, tujuan utama saya sih sebenarnya untuk pemutihan, karena kulit sudah sangat gosong dan berubah menjadi hitam pekat seperti kopi.

Lagi asyik bersantai ria, tiba-tiba teman saya, partner in crime dalam dunia perblusukan, dengan kostum trekking lengkap datang ke rumah dengan wajah sedikit suram.

“What’s up Mike?” Tanya saya.

“Blusukan ayoq!” Jawab teman saya.

“Jiah, lagi malas ini. Blusukan kemana? Ente kostumnya lengkap banget, mau kemana?” Tanya saya lagi.

“Tadi mau jalan-jalan ke Bukit Tunak sama teman, tapi saya ditinggal, jadi malas. Makanya kesini mau ngajakin blusukan”. Jawab teman saya.

“Hahaha, sabar. Mau blusukan kemana? Diem aja disini kita ngopi-ngopi” jawab saya.

“Blusukan dah ayoq, lagi pengen sekali soalnya. Kemana aja deh, kan kamu navigator nya” jawab teman saya lagi.

Well, akhirnya saya buka ePhone saya dan membuka kumpulan peta blusukan saya. Setelah melihat-lihat, akhirnya pilihan saya jatuh ke Pantai Tanjung Poroq.

“Kalo kesini gimana? Belum ada yang jamah ini. Tapi harus turunin tebing. Piye?” Tanya saya lagi.

Tanpa basa basi dan pikir panjang, teman saya menjawab, “berangkaatt!”

Well, well, well, demi menyenangkan hati teman dan demi mengeksekusi spot baru, saya pun bersiap dan setelah itu langsung menggeber mesin kendaraan kami dengan kencang menuju kawasan Jerowaru. Oh ya, FYI, rute yang di tempuh yaitu: Mataram – Kediri – Praya – Ganti – Jerowaru – Desa Sekaroh – Pantai Tanjung Poroq.

Perjalanan dari Mataram ke spot tujuan kami kira-kira 2-3 jam dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Hanya sepeda motor lho ya dan itu pun sepeda motornya harus dalam kondisi prima dan tahan banting karena trek dan medan yang akan dilalui sungguh-sungguh kejam.

Salah satu trek yang harus dilewati

Salah satu trek yang harus dilewati

Dalam perjalanan menuju spot tujuan, saya bertanya kepada teman saya “gak kita beli bekal dulu nih?” Teman saya dengan santai kemudian menjawab “nanti aja disana, ribet kalau bawa dari sini” “Oke then” saya membalas.

Selang beberapa saat kemudian, kami tiba di kawasan Jerowaru, tepatnya Desa Sekaroh. Karena belum beli bekal apapun, kami kemudian memutuskan untuk berhenti membeli bekal di salah satu warung yang sering kami lalui kalau mengunjungi kawasan ini. Namun alangkah malang nasib kami, ibu penjaga warung bilang kalau hari itu dia tidak jual nasi dan yang ada hanya air mineral ukuran sedang dan wafer harga 500 perak. Daripada tidak ada bekal sama sekali, kami berdua memutuskan untuk membeli masing-masing 1 botol air minum dan 2 bungkus wafer (karena cuma itu yang tersisa).

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Poroq. Kondisi jalanan mulai berubah, yang tadinya aspal sekarang menjadi tanah berbatu. Kami terus menyusuri jalan tanah berbatu sampai akhirnya kami menemukan jalan trabas menuju Pantai Tanjung Poroq. Jalan trabas ini letak nya kira-kira 2 KM sebelum jalan masuk ke Tanjung Beloam.

Sesaat setelah memasuki jalan trabas ini, kami dibuat takjub oleh trek dan medan jalannya yang begitu wow. Rasanya kasian sekali motor kami dipaksa melewati jalan ini. Namun, demi mengeksekusi spot baru, kami pun mengeluarkan segenap tenaga dan keahlian kami dalam berkendara demi melewati jalan “neraka” ini.

Yah, mesin motor kami pun mulai meraung kencang melewati jalanan tanah berbatu yang menanjak, gundukan-gundukan tanah, bebatuan, lumpur dan semak-semak yang rimbun. Singkat cerita, setelah berjibaku dengan berbagai jenis rintangan, akhirnya kami tiba di Bukit Pantai Tanjung Poroq. Oh yeah, finally! Sampai di puncak bukit, kami duduk berteduh sambil menikmati bekal ala kadarnya yang sebenarnya sangat-sangat kurang. Oh, great!

Pemandangan dari puncak bukit ini benar-benar indah. Air laut dengan degradasi warnanya yang begitu elok dipandang mata, Pulau Sumbawa dikejauhan yang membentuk siluet dan tentu saja Pantai Tanjung Poroq yang terletak di bawah tebing terlihat dengan jelas. Duduk santai dibawah pohon yang rimbun, ditemani semilir angin yang begitu sejuk sambil menikmati pemandangan yang begitu menakjubkan rasanya benar-benar nikmat dan syahdu. Surga dunia!

View dari atas Bukit

View dari atas Bukit

“Gimana bro?” Saya bertanya kepada teman saya memecah keheningan.

“Mantap ini. Keren abis” jawab teman saya singkat karena masih terpukau sama pemandangan yang terpampang nyata di depannya.

“Gini om. Saya pernah liat di IG, kalau udah ada beberapa orang yang pernah fotoan di bukit ini. Tapi, belum ada sama sekali yang turun ke Pantai Tanjung Poroq yang di bawah tebing sana. Soalnya gak ada akses jalannya” sambung saya.

“Trus gimana? Kita turun? Cara nya gimana?” Tanya teman saya.

“Well, kita harus turun dan jadi orang pertama yang menjamah pantai ini. Caranya ya merayap menuruni tebing melewati semak-semak itu. Gimana?” Jawab saya.

“Gile, salah dikit bisa game over kita. Naik nya gimana?” Tanya teman saya lagi.

“Disitulah tantangannya. Naiknya ya tinggal panjat tebing nya lagi. Now or never. Mumpung cuaca bagus ini” jawab saya lagi.

“Turun naik tebing nya tangan kosong nih? Ayoq sudah sikat” kata teman saya membalas.

Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin semangat. Dan akhirnya kami mulai menuruni tebing dengan sangat hati-hati mengingat resiko nya yang sangat berbahaya. Merayap turun selangkah demi selangkah sambil mencari pegangan di semak-semak. Kami harus ekstra hati-hati mencari pijakan dan tempat berpegangan, kalau tidak ya nyawa kami taruhannya. (Kalau tidak punya skill khusus, tindakan kami ini tidak boleh ditiru ya). Kami akui, modal kami menuruni tebing dengan tangan kosong ini adalah 90% nekat, 8% keberanian dan 2% skill memanjat. Kami tidak pernah memperhitungkan apa yang akan terjadi jika tebing nya longsor atau apakah di balik semak-semak atau lekukan batu ada hewan berbahaya seperti ular, kalajengking dan hewan lainnya. Pokok nya kami benar-benar nekat.

Tebing yang harus dilewati untuk bisa turun ke Pantai

Tebing yang harus dilewati untuk bisa turun ke Pantai

Akhirnya, oh, God, kami tiba di bawah dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Karena kelelahan, kami langsung berbaring di pasir yang terasa begitu lembut ini.

Well, well, well, kami orang pertama yang turun ke Pantai Tanjung Poroq ini. Oh yeah!

Pantai Tanjung Poroq ini sangat-sangat bersih dan gak ada sampah secuil pun. Garis pantainya pendek dan pasir putihnya sangat halus. Selain itu, air lautnya sangat-sangat bersih dan bening (crystal clear water) dan ombaknya sangat tenang. Yang terpenting adalah, tidak ada siapapun disini selain kami. Keadaannya benar-benar tenang dan damai. Tidak ada kebisingan dan hingar bingar apapun. So quiet and peaceful! Pantai ini berasa milik kami berdua.

Pantai Tanjung Poroq

Pantai Tanjung Poroq

Sakau melihat pemandangan yang tiada duanya ini, kami langsung berlarian di sepanjang pantai dan bermain air seperti anak kecil. Ahh, so speechless! Menjadi yang pertama menjamah pantai ini memberikan perasaan bahagia dan bangga bagi diri kami berdua. Perasaan kami waktu itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. We couldn’t be happier!

Semua usaha dan resiko yang kami hadapi terbayar lunas setelah kami menjejakkan kaki kami di pantai eksotis ini.

Puas menjamah setiap jengkal pantai ini, kami kemudian berfoto ria untuk mengabadikan setiap momen berharga kami dan sebagai bukti kalau kami pernah menginjakkan kaki kami di pantai yang sungguh luar biasa ini.

Rasanya kami ingin sekali berlama-lama disini, namun waktu belum mengizinkan. Kami harus naik ke atas lagi dengan memanjat tebing tinggi yang berdiri di hadapan kami terlebih dahulu. Dengan tangan kosong dan penuh hati-hati kami memanjat tebing yang kami turuni tadi.

Beberapa saat kemudian, kami tiba di atas bukit lagi dengan selamat. We made it! We made it Mike!

Do you see me?

Do you see me?

Akhirnya, dengan batin dan jiwa yang terpuaskan kami pun beranjak pulang.

Itulah pengalaman nekat kami dalam mengeksekusi Pantai Tanjung Poroq. Buat teman-teman yang ingin turun ke bawah, alangkah sangat baiknya kalau membawa peralatan untuk panjat tebing seperti tali dan lain sebagainya.

~life is either a daring adventure or nothing~

Sekian!

(Visited 762 times, 1 visits today)


About

Son of the Beach


'“Memerawani” Pantai Tanjung Poroq, Lombok Timur' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool