Nyalamaq Dilauq, Ritual Selamatan Laut di Lombok

Nyalamaq Dilauq, Ritual Selamatan Laut di Lombok
3 (60%) 2 votes

Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Lautan yang luas melebihi daratannya memiliki kekayaan berlimpah, berkah sekaligus tanggungjawab besar bagi negeri ini. Menariknya, masyarakat maritim Indonesia punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa akan melimpahnya hasil laut.

Sedekah Laut, Larung Laut, Petik Laut, Selamatan Laut, Hajat Laut, adalah sedikit nama yang biasa digunakan dalam berbagai ritual syukuran laut, di berbagai tempat di Indonesia. Nah, di Lombok juga ada ritual serupa yang dikenal dengan nama “Nyalamaq Dilauq”. Ritual ini berasal dari suku pelaut yang bertandang dan akhirnya menetap di Lombok–suku Bajo, Mandar, Bugis, Makasar. Nenek moyang mereka yang datang ke Lombok, menempati daerah-daerah pesisir pantai selatan Lombok dan membawa serta tradisinya.

Setiap kampung nelayan di daerah selatan seperti Maringkik, Labuhan Haji, Labuhan Lombok, dan lainnya, memiliki tradisi serupa. Sesekali kampung-kampung ini menggelar selamatan laut bersama-sama yang biasanya dipusatkan di Tanjung Luar.

Kayak gini nih, suasana puncak Nyalamaq Dilauq. Rame!

Kayak gini nih, suasana puncak Nyalamaq Dilauq. Rame!

Nyalamaq Dilauq ini sangat unik karena menggabungkan budaya suku pelaut Nusantara dengan kearifan lokal khas Lombok tanpa melupakan unsur islami sebagai penguatnya.

Keramaian pennonton menyaksikan ritual Nyalamaq Dilauq

Keramaian pennonton menyaksikan ritual Nyalamaq Dilauq

Hal yang kali pertama dilakukan sebagai persiapan ritual adalah adalah mendata peralatan apa saja yang dibutuhkan. Beberapa diantaranya memang hanya dimiliki oleh nelayan dari kampung tetangga, sehingga harus dipinjam dan tentunya sebagai undangan untuk mengajak semua komunitas nelayan ikut terlibat. Perlengkapan yang dikumpulkan harus dipastikan tidak boleh ada yang kurang, salah cara memasang, atau keliru menempatkan. Jika ada kesalahan, maka diyakini ritual tidak akan berjalan mulus, atau bisa kena bencana.

Sementara itu para tokoh akan menentukan waktu dan tempat pelaksanaan ritual. Tanda akan dimulainya ritual harus bersamaan dengan munculnya pupuru atau bintang sembilan, yang disebut masyarakat Sasak sebagai bintang rowot (this could be another interseting story!). Seekor kerbau disiapkan sebagai korban dan kepalanya akan dilarung ke laut. Karena tradisi ini merupakan perpaduan budaya dan agama Islam, selama tiga hari pelaksanaannya, maka sepanjang malam digelar doa dan zikir di lokasi acara. Setiap hari para tokoh adat juga akan berkeliling kampung sambil membaca doa-doa keselamatan.

Iring-iringan gadis pembawa alat tenun

Iring-iringan gadis pembawa alat tenun

Seorang sanro perempuan memakaikan sembeq pada peserta ritual

Seorang sanro perempuan memakaikan sembeq pada peserta ritual

Pada hari pelaksanaan prosesi, setiap orang yang mengiringi acara akan dikenakan sembeq (penanda) berwarna merah dan kuning di kening dan lehernya. Sembeq ini menjadi simbol bahwa hanya merekalah orang-orang terpilih yang boleh mengiringi prosesi, sekaligus mencegah dari gangguan makhlus halus. Beberapa perempuan berperan sebagai penjaga dalam prosesi ini, sebagian diantaranya berada dalam pengaruh kekuatan magis. Jika ada penonton atau orang biasa yang hendak mendekat melewati garis batas penonton, maka perempuan “kesurupan” ini akan memperingatkan mereka sambil menangis.

Kerbau diarak terlebih dahulu sebelum dikorbankan

Kerbau diarak terlebih dahulu sebelum dikorbankan

Kerbau yang sudah disiapkan kemudian akan diarak keliling kampung, sebelum disembelih dan dilarung keesokan harinya. Tempat melarung kepala kerbau pun tak sembarangan, para sanro (dukun) kampung bertugas mencari titik yang tepat dengan diiringi oleh puluhan perahu nelayan. Daging kerbau kemudian akan dibagikan pada anak yatim.

Para pria berkostum hitam inilah yang bertugas sebagai jagal kerbau

Para pria berkostum hitam inilah yang bertugas sebagai jagal kerbau

Atraksi silat untuk menghibur para penonton

Atraksi silat untuk menghibur para penonton

Banyak kearifan lokal yang ditunjukkan dalam ritual ini. Selama 3 hari berlangsungnya prosesi, para nelayan tidak dibolehkan melaut. Larangan ini menjadi simbol untuk memberikan kesempatan bagi ikan-ikan dan biota laut untuk tumbuh besar, menjaga keseimbangan ekosistem. Peralatan yang dipakai dalam prosesi pun ada maknanya. Bendera atau ula-ula yang dipasang menunjukkan ciri khas suku-suku yang membawa tradisi ini ke Lombok. Pakaian adat yang digunakan oleh para gadis pembawa alat tenun pun berasal dari berbagai suku tersebut. Benar-benar perpaduan budaya yang menarik!

Gadis pantainya cantik-cantik, vroh! *cuma di Lombok

Gadis pantainya cantik-cantik, vroh! *cuma di Lombok

Fyi, saya juga sebelumnya nggak tahu kalau ada ritual keren semacam ini di Lombok. Next, Nyalamaq Dilauq akan digelar pada awal bulan Oktober.

Kapal-kapal yang mengikuti prosesi pelarungan kepala kerbau

Kapal-kapal yang mengikuti prosesi pelarungan kepala kerbau

Dare to join? Yuk, booking tiket anda sekarang di ezytravel.co.id See you soon in Lombok!

(Visited 408 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Nyalamaq Dilauq, Ritual Selamatan Laut di Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool