Pantai Tanak Beak

Pantai Tanak Beak, Alasan Untuk Selalu Kembali ke Kuta Lombok

Pantai Tanak Beak, Alasan Untuk Selalu Kembali ke Kuta Lombok
2.1 (42.86%) 7 votes

Halo lagi sobat travellers Ezy, seperti biasa kami akan tetap sajikan kisah dan foto-foto cantik dari pantai di Lombok. Yakin banget deh kalian ga akan bisa bosan. Selalu akan ada seribu satu angles serta story trip seru yang bisa dicontek untuk trip selanjutnya ke Lombok, lagi dan lagi.

Kali ini, satu spot di tak jauh dari Landmark pantai Kuta Lombok yang famous itu. Namanya Pantai Tanak Beak.

Awalnya perjalanan saya hari itu hanya untuk mengunjungi rumah baru adik cowok dan keluarga kecilnya di salah satu perumahan di daerah Gerung Lombok Barat. Serombongan dengan orang tua saya dan enam dari total delapan orang cucunya. Di awal perjalanan, kakak sulung saya yang membawa mobil memastikan tak ada skejul ke pantai. Selain karena hari memang cukup panas, gumpalan awan putih tebal di langit mengisyaratkan minimnya kesempatan dapatkan momen sunset cantik. Manalagi membawa enam krucil yang pasti akan memilih tetap bermain air, basah-basahan tanpa peduli cuaca. Jadi, sampai pun pulang kembali ke Selong Lombok Timur sekitar pukul 2 siang, bayangan akan kunjungi satu pantai sudah skip maksimal.

Gerung Lombok Barat

Bundaran Air Mancur Gerung Lombok Barat

Di perjalanan pulang, sunset masih terlalu awal. Namun masih selalu worth it untuk mengabadikan satu sudut khas kota Gerung, yakni Bundaran Air Mancur. Beberapa sudut masih selalu ada proses perbaikan (baik di trip saya tahun lalu, pun saat foto terbaru ini saya ambil). Pun semacam bersorak, bisa dapatkan shot yang tetap bagus meski diambil dari bagian belakang mobil yang sedang melaju.

Gerung Lombok Barat

Ssssttt, abaikan tulisan di kaca belakang mobilnya yak. *Eh

Nah, karena sudah tak ada harapan akan kunjungi pantai mana pun, saat perjalanan pagi saya memperhatikan setiap sisi kiri dan kanan jalan by-pass dari Selong (ibukota kabupaten Lombok Timur) menuju Gerung (ibukota kabupaten Lombok Barat). Salah satu yang saya niatkan harus difoto, satu shopcenter baru di sisi kanan jalan (jika dari arah Mataram menuju BIL) yaitu sentra kain tenun dengan salah satu motif tenun ‘Keker’ yang tertulis besar-besar di baliho atau iklan promo bangunan ini.

Shopcenter Tenun Sasak di jalan bypass BIL

Shopcenter Tenun Sasak di jalan bypass BIL

Selain itu, bisa juga abadikan salah satu alat berat yang sedang aktif bekerja di beberapa puluh meter ruas jalan bypass (yess, jalan bypass jadi makin mulus lus lusss).
Gerung Lombok Barat
Pun satu angle serba hijau dari daerah persawahan yang masih banyak terdapat di kiri-kanan jalan by-pass, saat terpaksa berhenti karena jalur buka-tutup satu arah yang memaksa lalu lintas dari arah barat dan timur bergiliran dibukakan jalan. Meski agak panas, macetnya ndak terlalu berasa dan ndak bikin bete.

Jalur Bypass Lombok Barat

Hijaunya persawahan di jalur bypass Lombok

Dua keponakan yang menemani di bagian belakang. Masih ceria karena budenya heboh cerita ini-itu.

Dua keponakan yang menemani di bagian belakang. Masih ceria karena budenya heboh cerita ini-itu.

Lepas dari sedikit kemacetan karena jalur buka-tutup, kakak sulung saya memilih melintasi kompleks BIL daripada kembali ke jalur berangkat sebelumnya, melintas kota Praya Lombok Tengah. Dua keponakan perempuan yang memilih di bagian belakang mobil bersama saya antusias bangun saat saya heboh iming-imingi bisa lihat pesawat terbang. Meski ternyata tak ada satu pun pesawat yang sedang proses take off atau landing, pun rasa masygul tak bisa mengabadikan gerbang komplek BIL pelengkap koleksi foto penunjang ulasan trip travel lainnya, saya masih semangat ceriakan dua keponakan saya. Sekian belas menit melewati BIL, kami akan sampai di pertigaan. Jika ke kiri ke arah Lombok Timur, jika ke kanan akan ke area Kuta Lombok. Cihhuy! Detik-detik antara mobil berbelok ke kiri atau ke kanan kami nanti bertiga dengan was-was level dewa, dan yak! Mobil berbelok ke kanan! Kita ke pantaiiii!

Sade Lombok Tengah

Fuso terbalik di Sade Lombok Tengah

Bagian depan truk fuso yang sudah diangkat.

Bagian depan truk fuso yang sudah diangkat.

Sibuk menjadi guide wisata dadakan bagi dua keponakan saya, saya tunjukkan spot wisata ini-itu, terutama desa adat Sade.

Waduh, tak lama lewati Sade, mobil berhenti lagi dan menambah barisan mobil di depan yang mulai mengular. Spot macet lainnya. Tengok kiri-kanan, sepintas melihat beberapa motor yang dikendarai pasangan kenakan pakaian adat, selintas terpikir kalau macet kali ini disebabkan adanya rombongan Nyongkolan. Satu rangkaian proses menikah Terune (lelaki) dan Dedare (gadis) Lombok. Putri saya yang duduk di bagian tengah mengisyaratkan untuk melihat ke arah kiri jalan. Uwow, ada kotak besi besar yang terbalik. Beberapa lelaki dewasa sedang sibuk persiapkan rantai besar untuk menarik bagian belakang truk fuso. Ketika akhirnya mobil bisa berjalan lagi, masih dari belakang mobil saya bisa abadikan bagian depan truk yang sudah lebih dulu dinaikkan. Duh, semoga pak sopir atau pun kernetnya selamat yaaa, amin.

Tiba di daerah perbukitan, dua ponakan saya sudah sepenuhnya terbangun. Bayangan akan segera berbasah-basahan di pantai sudah mengusir kantuk dan rasa capek mereka. Mobil mulai memasuki wilayah wisata Kuta Lombok. Jejeran boutique, resto, bungalow dan hotel mulai ramai di kiri-kanan jalan. Iyak! Langit dan laut serba biru sudah mulai tampak. Tapi tunggu, mobil koq ndak berhenti yaaa. Tulisan merah besar ‘Pantai Kuta Lombok’ mulai terlewati. Waaahhh, jangan-jangan cuma lewat doang nih 🙁

Ternyata kendaraan tak berhenti dan kami mulai yakin kalau cuma lewat serta memandangi pantai, saya dan dua keponakan mulai lesu lagi. Namun, ketika mobil memasuki satu jalan tanah biasa dan bergelombang dengan satu penunjuk arah sederhana bertuliskan ‘Stop Point Deddy’s Resto’ dan ‘Tanak Beak Beach’, kami kembali bertepuk tangan kesenangan. Terutama saya, meski wira-wiri di Kuta hampir setengah abad (pakai patokan umur saya nih, hampir lo yaaa), saya belum pernah masuk ke spot ini. Entah karena para turis sudah meramaikan banyak spot lain, saat memasuki area ini tak ada keharusan membayar parkir. Toilet juga tersedia meski letaknya bergabung dengan resto sederhana persis di kaki bukit sisi kanan.

Pantai Tanak Beak

Resto sederhana di balik bukit Pantai Tanak Beak

Pantai Tanak Beak

Satu berugak di tengah parkiran yang luas.

Sunset yang juga masih terlalu awal. Pantai pun sedang agak surut. Beberapa remaja cowok sedang asyik memunguti kerang dan saya bergegas mengeksplorasi karang di sisi barat bukit, mumpung surut, rasa-rasanya akan bisa dapatkan foto cantik yang mungkin tak bisa diperoleh saat air laut pasang kembali.

Pantai Tanak Beak

Posisi surut memastikan anak-anak bisa berenang dengan aman dan pantai relatif lebih sepi.

Pantai Tanak Beak

Tebing karang kuning Pantai Tanak Beak

Pantai Tanak Beak

Karang dan spot timur Pantai Tanak Beak

Melihat lidah ombak yang semakin bergerak naik, saya hanya bisa dapatkan satu angle saja dari spot paling tengah bukit, sisi selatan, di pantai ini. Kembali bergerak memutar, satu bebatuan di tengah laut yang juga akan tampak jika berhenti di pantai Kuta saya foto ulang.

Pantai Kuta Lombok Tengah.

Arah jam dua dari angle ini, garis pantai Kuta Lombok Tengah.

Terpenggal oleh keinginan memotret orang tua saya, menjelang pulang barulah saya minta kesempatan memotret lebih banyak angle foto cantik, terutama sisi timur pantai.

Pantai Tanak Beak

The bright blue and beautiful Tanak Beak beach.

Meski tak bisa menunggu sampai momen sunset, pun ambil resiko naiki bukit demi angle lanskap garis pantai (ndak kebayang kalau enam krucil maksa ikutan manjat, bahaya! ^_^), rasa-rasanya beberapa foto cantik yang saya dapatkan bisa menjadi alasan sobat traveller’s Ezy untuk masih selalu kembali kunjungi Kuta Lombok. Jika sudah punya koleksi foto cantik dari tujuh pantai di sepanjang kawasan selatan (termasuk Kuta), masih ada spot Tanak Beak yang juga sama cantiknya.

Kembali kami terpaksa harus menghindari jalur desa adat Sade (saking panjangnya antrian macet, jadi tidak tahu apakah penyebabnya pengangkatan kontainer fuso yang terbaik atau prosesi Nyongkolan), kakak saya memilih jalur kembali sepanjang kawasan selatan pulau Lombok. Saat itu momen pas saat sunset mulai sirna, view sepanjang jalur ini juga cantik-cantik. Sayang, saya hanya bisa abadikan gurat orange tipis terakhir yang membayang di langit kawasan Kuta Lombok.

Pulau Lombok

Sunset dari tanjakan jalur selatan Pulau Lombok.

Well, sobat traveller’s Ezy, intip lagi yuk promo-promo tiket pesawat dan hotel di ezytravel.co.id dan langsung cusss ke Lombok untuk membuktikan keindahan Lombok dengan mata kepala sendiri 🙂

(Visited 412 times, 1 visits today)


About

Penulis freelance dengan seorang putri dan seorang putra, serta selalu berjuang keras menjadi istri terbaik dunia dan akhirat.


'Pantai Tanak Beak, Alasan Untuk Selalu Kembali ke Kuta Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool