Perang Topat, Perang Wujud Toleransi Umat

Perang Topat, Perang Wujud Toleransi Umat
4.5 (90%) 2 votes

What’s on your mind when you hear the word “war”? Yang jelas kebanyakan kita saat mendengar kata perang akan timbul gambaran kebencian, kekerasan dan saling membunuh. Namun, di Lombok ada perang yang jauh berbeda, jauh dari kesan kebencian. Sebaliknya, perang yang memiliki rangkaian prosesi ritual ini sarat akan nuansa damai, toleransi, persaudaraan dan kebersamaan.

Itulah dia perang topat, perang yang merupakan ritual cermin kerukunan antara umat Hindu Bali dan umat Islam Sasak yang rutin digelar di Taman Pura Lingsar, Lombok Barat, NTB setiap tahun tepatnya ketika purnama tiba, saat bulan memasuki hitungan keenam dalam kalender Hindu, atau ketujuh bagi penganut suku Sasak Muslim atau lebih jelasnya dilaksanakan sekitar bulan November atau Desember. Perang Topat adalah bagian dari Upacara Pujawali. Bagi suku Sasak, Pujawali adalah prosesi mengenang Syekh Kyai Haji Abdul Malik, salah seorang penyiar agama Islam di Pulau Lombok. Sedangkan bagi umat Hindu, Pujawali adalah memuja Tuhan berulang kali setiap tahun.

Umat Hindu dan Islam bersama melakukan serangkaian prosesi ritual perang topat

“Umat Hindu dan Islam bersama melakukan serangkaian prosesi ritual perang topat
Yuk Cek Wisata Spiritual apa saja di Lombok!

Sehari sebelum perang topat dimulai, ritual Keliningan Kaok dilakukan. Keliningan Kaok yang merupakan bahasa Sasak berarti mengelilingi kerbau atau bisa juga diartikan mengarak kerbau. Inilah ritual napak tilas perjalanan Syekh Kyai Haji Abdul Malik ketika menyiarkan agama Islam di Pulau Lombok. Pada saat inilah umat Islam dan Hindu membentuk barisan dan mengelilingi Kemaliq atau rumah suci milik umat Sasak dan Pura Lingsar milik umat Hindu. Mereka berkeliling dengan membawa seekor kerbau yang merupakan simbol perbekalan Syek Kyai Haji Abdul Malik saat berdakwah. Sembari berkeliling kerbau ini pun dikejar oleh para pemuda dan pemudi bahkan anak anak pun tak kalah antusiasnya. Pemilihan kerbau dalam napak tilas didasari toleransi antara umat Sasak dan Hindu. Jika menggunakan sapi dikhawatirkan akan menyinggung perasaan umat Hindu. Sebab sapi adalah hewan yang dimuliakan dan dihormati kalangan umat Hindu. Sementara jika yang digunakan babi maka akan membuat umat Islam tak nyaman karena seperti yang kita ketahui, hewan tersebut haram bagi umat Islam. Setelah ritual Keliningan Kaok, keesokan harinya perang topat dimulai pada sore hari yang istilah bahasa Sasak-nya Waktu Rorok Kembang Waru (waktu gugurnya kembang pohon waru) yaitu sekitar pukul 16:00 WITA. Iring-iringan para wanita membawa ribuan topat atau ketupat sebelum perang topat dimulai. Topat ini kemudian dibawa masuk ke dalam Kemaliq untuk didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Umat Hindu dan Islam penuh sesak memenuhi Kemaliq

Umat Hindu dan Islam penuh sesak memenuhi Kemaliq

Para wanita membawa rupa-rupa sesaji dan ketupat mengelilingi Kemaliq

Para wanita membawa rupa-rupa sesaji dan ketupat mengelilingi Kemaliq

Ratusan orang tua-muda, pria-wanita, dan bahkan anak-anak terbagi menjadi dua posisi. Sebagian di halaman Pura Gaduh, tempat persembahyangan umat Hindu, dan sebagian lagi di halaman depan bangunan Kemaliq, yang disakralkan sebagian masyarakat Muslim Sasak. Dan perangpun dimulai. Ketupat dibagikan ke setiap umat. Aksi saling lempar, saling menghindar tak terelakkan.

Suasana warga saat berebut ketupat yang dibagikan

Suasana warga saat berebut ketupat yang dibagikan

Perang topat dimulai!

Perang topat dimulai!

Aksi saling lempar ketupat tak terhindarkan

Aksi saling lempar ketupat tak terhindarkan
Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: tiket pesawat ke Lombok &  hotel murah di Lombok
Itulah dia sekilas cerita tentang perang topat dan serangkaian ritualnya. Perang topat tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi perang topat juga banyak memiliki pesan kebaikan. Bagi para traveler yang memang senang dengan wisata budaya, perang topat yang merupakan annual event ini bisa menjadi salah satu pilihan wisata di Lombok. Experience how it feels to get involved in a war.
(Visited 393 times, 1 visits today)

Tagged:


About

wandergirl | a lil daughter | weirdo | journeylist


'Perang Topat, Perang Wujud Toleransi Umat' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool