adat-karang-bayan

Sisa Sejarah Rumah Adat Karang Bayan, Lombok

Sisa Sejarah Rumah Adat Karang Bayan, Lombok
Vote Us

Ayo ke Lombok dan mampir ke rumah Adat Karang Bayan! Siang cukup terik, matahari seolah-olah sedang semangat untuk menyinari Bumi. Sepertinya berburu es buah enak nih, saya langsung membayangkan hujan es teler dari langit. Bayangkan saja, sedang panas terik menyengat dan tiba-tiba mendung, kemudian turun hujan es teler lengkap dengan buahnya. Tinggal mangap menghadap langit. Astaga, terik sudah membuat saya sedikit berpikir yang kadang terpikirkan oleh orang-orang sedikit absurd. Padahal percayalah, saya tidak seperti itu. hehehe..

Adat Karang Bayan

Baca artikel lainnya : Ke Sembalun Yuk!

Oia, sekarang sedang musim buah di Lombok. Dari buah Rambutan sampai buah Durian, sedang musim nih. Para petani buah sedang panen buah mereka. Semakinlah es buah segar menjadi terbayang-bayang di kepala saya. Seperti menari-nari di pelupuk mata saya. Sial, saya harus klayapan untuk bisa menghalau halusinasi tentang es buah yang tiba-tiba meliuk-liuk lengkap dengan toping serutan es dan susu serta sirupnya. Duh! Ini pasti efek kepala saya sedang mengepul saking panasnya cuaca siang ini. Jadi pengen ke Senaru juga biar adem.

Entah, mungkin memang tujuan saya mencari es buah. Maka dari itu, saya memutuskan untuk berburu es buah. Segera saya memacu motor ke sebuah warung yang menyediakan es sop buah. Semangkuk es buah sudah terhidang di di depan mata. Lahap saya menghabiskan es buah yang menjadi pengganti es teler. Pada suapan terakhir, saya langsung merasa pengen berburu buah Duren dan Rambutan. Iya, terkadang tiba-tiba ide muncul untuk kembali ngegas motor lagi. Sedikit terlintas nantinya ingin mampir sebuah rumah adat Karang Bayan Lombok.

Adat Karang Bayan

Saya memutuskan untuk ke rumah seorang teman yang terletak di Lingsar, Lombok Barat. Sekitar 15 menit dari kota Mataram. Semacam sidak, saya mendadak datang bagai tamu tak diundang ke rumah teman saya. Tak lama, saya memberitahukan maksud saya bertandang ke rumahnya. Setelah berbincang sebentar, teman saya langsung mengajak saya untuk berburu buah Durian dan Rambutan.

Eh tapi, saya malah agak sedikit penasaran dengan sebuah Desa Adat Karang Bayan yang tadi sempat disebut-sebut oleh teman saya saat kami berbincang. Karena penasaran itu, saya malah mengajak teman saya untuk memacu motornya ke desa adat Karang Bayan tersebut. Perihal Durian dan Rambutan bisa nanti deh sepulang dari sana.

Memasuki are lokasi desa adat Karang Bayan, siang itu begitu sepi. Lengang dan tentu saja terik panas masih saja membuat saya sedikit meringis kepanasan. Masih ada sisa-sisa desa adat yang dulu pernah berjaya. Namun, sekarang desa ini nampak mulai sepi oleh pengunjung. Hanya ada beberapa bangunan yang tampak sekali dipertahankan keasliannya.

Adat Karang Bayan

Rumah-rumah penduduk yang dulunya tradisional mulai sedikit berbeda. Karena sudah tidak menggunakan bedeq (kulit bambu) dan jerami lagi tapi melainkan sudah dengan tembok bata. Tapi desa adat Karang Bayan masih sangat asri. Saya berharap desa adat Karang Bayan ini akan ramai lagi dikunjungi oleh wisatawan kembali. Kerajinan tangan seperti cukli juga sempat menjadi mata pencaharian dari penduduk desa.

Saya dan teman saya berkeliling desa, kami melihat-lihat beberapa rumah. Ternyata menurut seorang pemangku adat yang kami temui, desa adat Bayan ini dulunya sangat ramai dikunjungi pengunjung lho! Bahkan setiap harinya bisa mencapai 5 bus yang berkunjung. Dan tentu saja bangunan-bangunan desa adat Karang Bayan masih sangat tradisional, masih bernuansa ethnic.

Adat Karang Bayan

Rumah adat Karang Bayan ini sebenarnya sudah ada beberapa yang direnovasi dengan bantuan pemerintah juga, tetapi tidak mengubah bentuk asli dari rumah adat tersebut. hanya ada beberapa bagian yang seharusnya tidak di-semen, tetapi sudah di-semen. Saya jadi lupa waktu, kami dipersilahkan duduk di beranda rumah pemangku adat untuk berbincang lagi. Saya cukup antusias dengan banyak cerita sejarah tentang desa adat Karang Bayan ini.

Karang bayan sendiri adalah satu desa yang memiliki akulturasi budaya hindu dan Lombok. Konon pada jaman dulu kala Raja Karang Asem dari Bali pernah menguasai desa tersebut, yang tentu saja masyarakatnya menganut agama Islam dan sebagian lagi masih menganut “watu telu” .  Tak heran jika Desa Karang Bayan sendiri memiliki adat yang tak terlepas dari budaya hindu pada umumnya. Diantara adat hindu tersebut adalah Pijian (adat dari masyarakat di desa Karang Bayan memberikan hadiah dari keluarga muslim kepada keluarga hindu dan Kikiran (prosesi adat meratakan gigi dengan mengunakan alat tertentu).

Terdapat juga empat bangunan tradisional yang terdiri dari: Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Dulunya Bale Adat digunakan untuk tempat berkumpul penduduk desa. Kini, tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa. Bale Adat terdiri dari satu ruangan dan serambi. Di depan rumah ada “Sekenem” yang berfungsi sebagai ruang tamu. Di balik Bale Adat terdapat “Bangaran” yang merupakan monumen yang menyimbolkan batu pertama yang diletakkan ketika pertama kali nenek moyang Karang Bayan membangun desa ini. Di sisi bagian selatan dari Bale Adat, masjid sepi berdiri. Arsitektur ini paling mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada sisa bangunan yang dimanfaatkan menjadi dapur.

Wah, pokoknya banyak sekali informasi dan pengetahuan yang saya dapat dari desa ini. Tak lama, karena tersadar hari semakin sore. Saya pamit undur diri. Kami melanjutkan perjalanan mencari buah Durian dan Rambutan. Hehehe. Kalau sudah berada di Lingsar, Lombok Barat, kalian bisa datang ke desa adat Karang Bayan dan sekalian mencari buah yang sedang musim di sana. Lombok memang tak melulu tentang alam sih, ada banyak wisata budaya yang dapat dikunjungi. Jadi, kapan Ezytravelers ke Lombok?

Salam Cihuy~

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel Mataram, tour murah, dan tiket pesawat Mataram

 

(Visited 162 times, 1 visits today)

About

Simply Complicated


'Sisa Sejarah Rumah Adat Karang Bayan, Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool