seini-budaya-lombok

Regenerasi Untuk Melestarikan Seni Budaya Peresean Lombok

Regenerasi Untuk Melestarikan Seni Budaya Peresean Lombok
Vote Us

Ayo ke Lombok! Seni budaya Lombok begitu beragam. Selain kaya akan alam, tentu saja Lombok juga kaya akan tradisi budaya yang sudah turun menurun sejak dahulu kala. Akan sangat disayangkan jika budaya Lombok tergerus oleh budaya asing yang kian gencar menghampiri negeri kita ini termasuk tanah Lombok. Tidak menutup kemungkinan jika tidak ada regenerasi terhadap seni budaya Lombok ini, maka lambat laun tradisi yang dulunya mendarah daging hanya akan menjadi bagian sejarah saja.

Mau jalan-jalan ke Gunung Tunak? : Ini spot rekomendasi untuk kamu.

Suku Sasak Lombok harus tetap mempertahankan tradisi seni budaya Lombok yang mereka miliki. Ezytravelers pasti tidak mau donk dateng ke Lombok yang dinikmati adalah dance ala Korea atau negara lainnya. Itu juga menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku wisata juga nih, masyarakat pun juga harus sadar akan potensi wisata dari tradisi seni budaya yang bisa dijadikan sebagai salah satu objek wisata daerah.

Seni Budaya Lombok

ciaaattt

Sore itu kebetulan saya dan seorang teman sedang dalam perjalanan pulang ngetrip hore. Long weekend memang selalu ditunggu-tunggu. Siang itu ada beberapa tempat yang sedang kami singgahi. Seorang teman menghubungi saya, memeberitahu bahwa akan ada Pertarungan Peresean Lombok di desanya. Kebetulan jalur yang kami lalui bisa meleawati desa teman yang menghubungi saya tadi. Jadilah saya meminta partner ngetrip hore saya kali ini untuk mengubah arah motornya.

Seni Budaya Lombok

mereka serius lho!

Memasuki desa Sigerongan, kec. Lingsar, Lombok Barat. Saya meminta partner ngetrip hore saya untuk memperlambat laju motor. Teman saya sudah menunggu. Kami mampir sebentar ke rumahnya untuk menitipkan motor. Paal, teman saya ini ternyata ketua panitia pagelaran Pertarungan Presean Lombok, desa Sigerongan, genks. Woooh, jadilah saya banyak bertanya tentang seni budaya Lombok yang satu ini. Berjalan 2 menit dari rumahnya, tepatnya di sebuah pekarangan bekas kantor desa. Sebuah tarup atau tenda telah disediakan, lengkap dengan kursi untuk tamu. Saya sedikit sungkan ketika mereka mempersilahkan kami untuk duduk di kursi tamu. Di sebelahnya juga terdapat pengiring musik dan juga dihebohkan oleh host agar suasana semakin meriah. Saya merasa kurang nyaman sebenarnya, karena area yang tempat saya duduk adalah kursi untuk tamu undangan termasuk camat dan kepala desa. *maafkan kelancangan kami pak*

Seni Budaya Lombok

Tak berapa lama, host memperkenalkan beberapa padepokan yang hadir bersama pepadu mereka. Dari Pedepokan Angin Ribut yang ternyata merupakan tuan rumah yaitu dari paguyuban milik desa Sigerongan. Kemudian dari Pedepokan Dewa Mabuk dan dari padepokan Serigala Putih. Namanya unik-unik ya genks. hehehe

Seni Budaya Lombok

Iringan musik

Para pepadu atau ksatria yang akan bertarung segera melepas pakaian mereka dan mengenakan sarung yang berupa kain hitam dan sebuah penutup kepala. Jangan salah genks, ternyata peralatan yang mereka pakai seperti tongkat rotan dan perisai kayu asli. Jadi pertarungan seni budaya yang sedang saya tonton ini memang untuk profesional. Tapi tunggu sebentar, lho kok? Lho? Itu pepadu yang dipanggil namanya kan masih berusia remaja? Sekitar masih usia SMP atau SMA gitu. Saya bertanya pada teman saya, ternyata ini merupakan upaya regenerasi yang dilakukan oleh paguyuban-paguyuban peresean agar seni budaya mereka tidak mati atau tertelan jaman dan budaya asing yang masuk.

Seni Budaya Lombok

mereka nontonnya anteng

Seorang wasit yang menurut saya sedikit kocak dengan tingkah lucu, sesekali menari-nari di area pertarungan meminta dua orang pepadu untuk memasuki “medan perang” yang telah disediakan. Layaknya sebuah pertandingan, kedua pepadu ini saling memberi hormat kemudian wasit memberikan mereka aba-aba sebagai pertanda pertarungan dimulai. Dengan sigap tangan mereka saling memecut ke arah lawan. Bunyi hentakan rotan dan perisai kayu terdengar silih berganti. Saya menonton dengan sedikit was-was, salah seorang dari mereka terkenal pecutan dari tongkat. Terlihat kulit mereka terluka, memerah dan sedikit terkelupas. Saya semakin meringis tetapi mata saya tetap tersorot pada gerak gerik mereka.

Seni Budaya Lombok

pertarungan antar pepadu

Wasit memisahkan mereka jika pertarungan menyudahi ronde pertama, setiap pepadu akan menggoyangkan badan mereka mengikuti alunan irama musik yang mengiringi pertandingan. Sampai beberapa pepadu bertanding, akhirnya  pepadu dewasa yang bertanding sebagai penghujung acara pertarungan. Saya semakin bergidik melihat salah seorang pepadu yang memiliki julukan Gadjah Mada, badannya kekar, sedangkan lawannya berjulukan Anak Angin dengan badan kecil. Tapi ternyata mereka merupakan pepadu profesional yang bisa tampil di arena pertarungan yang lebih besar.

Mau jalan-jalan ke Lombok? Temukan berbagai pilihannya di sini: hotel murah, paket tour murah, dan tiket pesawat Murah

Lepas acara, saya langsung berpamitan pulang. Masih terlintas bagaimana para pepadu saling memecutkan tongkat rotan mereka dengan keras ke arah lawan, juga terlintas beberapa luka yang sempat tergores di badan mereka. Duh! Kalian harus menonton peresean kalau datang ke Lombok! Sensasinya gimana gituuuu~ hehehe… Yang abis jajan sambil nonton presean, sampahnya dibawa pulang ya! Salam Cihuy~

(Visited 178 times, 1 visits today)

About

Simply Complicated


'Regenerasi Untuk Melestarikan Seni Budaya Peresean Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool