Serba Unik di Dompu Part 2, 10 Jam Berkendara dari Lombok

Serba Unik di Dompu Part 2, 10 Jam Berkendara dari Lombok
1.24 (24.71%) 17 votes

Jika sebelumnya Anda memutuskan hang out di seputar Dompu karena ada penugasan mendadak, kali ini Anda harus benar-benar luangkan waktu khusus berlibur dan nikmati spot-spot wisata terbaik Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski terletak di timur pulau Sumbawa, pulau terbesar dari propinsi NTB, hanya butuh sekitar 10 jam berkendara dari Mataram Lombok, ibukota propinsi, dan hanya satu setengah jam jika Anda landing di bandara di kota Bima (kabupaten paling timur dari NTB).

Sangat disarankan untuk memilih waktu sepanjang bulan April, karena sejak suksesnya perayaan Dua Abad Tambora di April 2015 lalu, akan banyak acara adat setempat yang diselenggarakan pada bulan April, dus ulang tahun kabupaten Dompu juga bertepatan dengan tanggal meletusnya Sang 2851 mdpl di 11 April. Momen Pawai Budaya Rimpu, Festival Kopi Tambora, Cera Labu di desa Soro serta telusuri semua spot-spot wisata Dompu di tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Berikut keunikan lain yang hanya bisa Anda temukan saat berada di Dompu, tentunya disempurnakan dengan beberapa spot wisata Dompu lainnya.

Rimpu, Cera Labu dan Festival Kopi Tambora

Dua opsi Rimpu, hanya terlihat sepasang mata dan yang tampak wajah.

Dua opsi Rimpu, hanya terlihat sepasang mata dan yang tampak wajah.

Rimpu, busana adat khas Dompu, dimana sarung tenun dengan motif khas Dompu dikenakan menutupi hampir keseluruhan wajah dan menyisakan hanya sepasang mata pemiliknya saja yang terlihat. Namun busana lain di tubuh masih tetap terlihat karena sisa sarung penutup yang posisinya menyamping masih memperlihatkan antara sisi kiri atau kanan, sehingga baju adat dan sarung di bagian bawah tubuh terlihat sama cantiknya dengan rimpu yang menutupi wajah. Di helatan pertama di 11 April 2015 lalu, masyarakat Dompu mencatatkan momen Pawai Budaya Rimpu mereka sebagai rekord peserta pawai budaya busana adat terbanyak dengan hampir 15 ribu peserta. Itu berarti, ribuan kain tenun khas Dompu dikenakan serentak dalam satu arak-arakan pawai budaya. Momen candid terbaik bagi setiap pemburu foto-foto indah.

Disiram air di acara Cera Labu desa Soro Dompu

Disiram air di acara Cera Labu desa Soro Dompu

Masih di momen rangkaian acara peringatan ulang tahun Dompu, juga acara adat rutin masyarakat pelaut di desa Soro kecamatan Kempo, Dompu, Cera Labu (baca: Cera La’bu) diselenggarakan untuk sampaikan syukur kepada Yang Maha Kuasa agar hasil laut selalu melimpah dan memberikan berkah terbaik bagi para pelaut dan keluarganya. Oia, salah satu cara perayaannya adalah dengan menyiramkan air ke setiap pelintas di jalan-jalan desa Soro, jadi bersiaplah untuk berbasah ria yaaa. Masyarakat bahkan akan tetap menyirami Anda meski Anda berada di dalam mobil sekalipun. Desa Soro sendiri berlokasi di jalur utama lintas kota Dompu menuju desa Calabai atau desa Pancasila, jalur utama untuk trekking ke Tambora melalui Dompu yang melintasi padang sabana luas Doro Ncanga.

Museum Kopi Tambora

Museum Kopi Tambora

Berikutnya, festival tahunan lainnya, Festival Kopi Tambora. Acara rutin untuk melestarikan kekhasan kopi Tambora yang sudah dibudayakan sejak jaman VOC Belanda ratusan tahun lalu. Beberapa lahan kebun kopi dari jaman ini juga masih bisa disaksikan sampai saat ini dan diteruskan pemeliharaannya oleh masyarakat setempat. Salah satu jejaknya bisa ditemukan di bangunan tua yang dikenal dengan sebutan Museum Kopi, ditunggui serta dirawat oleh Pakde Parno (Suparno, mantan karyawan perusahaan pengelola kebun kopi di kawasan gunung Tambora). Untuk bisa mengikuti acara festival kopi ini, Anda bisa meminta informasi ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Dompu yang kantornya terletak di salah satu ruas jalan utama dan berdampingan dengan kantor-kantor pemerintahan lainnya di jalan Soekarno Hatta.

Selain tiga acara budaya di atas, saya yang berkesempatan menetap di desa Kempo, tetangga desa Soro selama 6 bulan juga menemukan beberapa keunikan lain. Beberapa masyarakat desa Kempo yang leluhurnya berasal dari Bima terbiasa membuat sendiri ramuan jamu, yang umumnya jamak dilakukan oleh mbok-mbok jamu dari Jawa. Yang cukup dikenal pendatang atau para wisatawan adalah Mina Sarua, campuran tape ketan hitam dengan beberapa rempah yang khasiatnya ampuh mengusir masuk angin atau masalah lainnya yang menyerang sistem pencernaan kita. Jamu lainnya berupa semacam jamu penguat stamina tubuh, biasanya dibuat saat musim tanam atau panen jagung. Sayang, saya abai mencatat nama dan detail resep jamu ini.

Bahan jamu a la desa Kempo Dompu

Bahan jamu a la desa Kempo Dompu

Beberapa kuda yang bebas merumput di kampung-kampung penduduk

Beberapa kuda yang bebas merumput di kampung-kampung penduduk

Keunikan lainnya, masyarakat terbiasa dengan ternak yang juga ‘gaul’ di keseharian mereka. Apalagi jika musim kemarau terjadi cukup panjang, banyak ternak yang dibawa pulang pemiliknya dan di lepas bebas di kampung-kampung. Jadi, tidak perlu terkejut jika sewaktu-waktu Anda nenangga dan tetiba di gang kampung berpapasan dengan sekawanan kuda atau iring-iringan kerbau yang hendak menuju sungai atau justru kembali dari sungai. Janji yaaaa..^_^

(Visited 369 times, 1 visits today)


About

Penulis freelance dengan seorang putri dan seorang putra, serta selalu berjuang keras menjadi istri terbaik dunia dan akhirat.


'Serba Unik di Dompu Part 2, 10 Jam Berkendara dari Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool