Serunya Begawe Ala Suku Sasak Lombok

Serunya Begawe Ala Suku Sasak Lombok
1 (20%) 1 vote

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Masih ingat dong dengan pepatah lama ini, yang meski berkali-kali diganti dalam kalimat atau frase yang lebih modern sekalipun bakal tetap berlaku. Di negeri kita, kayanya keragaman budaya tidak hanya sebatas perbedaan antar pulau. Aslik! Antar kampung atau gang pun perbedaan dengaan mudahnya ditemukan. Di Lombok, misalnya, meski sama-sama suku Sasak, seringkali kami tidak memahami kosa kata atau dialek yang digunakan dari daerah tertentu. Belum lagi adat istiadat, budaya, kearifan lokal, dan–semua yang tidak tertulis di buku namun hidup di masyarakat. Pulau Lombok memang sungguh kaya. Asli!

So, here’s the story about “Begawe Sasak” dari hasil observasi dan mengalami langsung selama menjadi pengantin-Sasak di rumah suami.

First of all, begawe disini maksudnya adalah kenduri. Istilah begawe umum dipakai untuk berbagai perayaan. Misalnya: begewe merarik (pernikahan), begawe besunat (sunatan), begawe haji (berangkat haji) dan seterusnya. Begawe merarik adalah perayaan yang paling meriah. Perlu dicatat bahwa perayaan begawe ini berbeda-beda di masing-masing kampung. But so far, here’s in kecamatan Pujut, desa Sengkol, is the most exciting begawe Sasak I’ve ever experienced in my life.

Persiapan begawe biasanya sudah dimulai jauh-jauh hari sebelumnya, dari mingguan sampai satu bulan sebelumnya. Intensitas persiapan makin padat jelang hari-H. Dari suami, saya tahu, bahwa proses persiapan begawe kami sudah dimulai bahkan sebelum lamaran berlangsung. Persiapan alat bahan begawe seperti kelapa, sayur, bumbu, daging, alat masak, sudah dipesan sejak awal. Bumbu kering dan jajanan kering (peyek, tarek, dan aneka jajan kering) sudah mulai dibuat 2 minggu sebelum acara. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung, 50 kg tepung untuk 1 jenis jajan.

Agan daging

Agan daging

Sedikit saja dari persiapan begawe

Sedikit saja dari persiapan begawe

Karena tidak sepenuhnya mengikuti adat (calon pengantin perempuan dipaling/dicuri seperti adat Sasak), maka saya resmi diboyong ke rumah (calon) suami dua hari sebelum akad nikah.

Saya baru tahu, bahwa di suku Sasak pun ada adat dimana calon pengantin perempuan harus mencuci kedua kaki dalam baskom berisi air yang disiapkan di depan teras sebelum masuk ke dalam rumah calon suami. I did that! Sayang saat itu nggak ada yang fotoin. Hehehe. Right after that, ada perayaan makan kecil yang namanya “Mangan Merangkat” mungkin untuk merayakan kedatangan (calon) pengantin ke rumah keluarga laki-laki. Saat kerabat dan tetangga menikmati santapan di luar dengan menu utama ayam, kami (calon) pengantin dan keluarga inti menikmati santapan di dalam. Ada dulang dengan telur rebus yang akan dipecahkan oleh papuq tuan (anggota keluarga yang dituakan) sebelum kita mulai makan bersama. Dari cerita yang saya dapat, proses yang kami lakukan adalah simbol dimulainya sebuah perjalanan baru dengan kesyukuran. Malam itu, saya menikmati santapan dengan perasaan campur aduk. Hehehe..

Mangan merangkat

Mangan merangkat

Begawe yang sesungguhnya dimulai setelah hari akad nikah. Jadi acara makan-makan yang heboh berhari-hari tersebut hanya sekedar pemanasan. I was in disbelief, until I experienced it myself.

“Jelo Jait” alias begawe di hari pertama, kesibukan sudah sudah dimulai sejak pagi sekali. Selepas Subuh, kami kedatangan tamu: bapak-bapak tetua, tetangga sekitar. Mereka mengaji dan shalawatan, setelah itu mereka menikmati (very early) sarapan, sekitar pukul 05.30 WITA.

Tak ada yang berdiam diri semua sudah ada pos dan penanggungjawabnya masing-masing. Penanggungjawab utama dikenal dengan sebutan Agan. Uniknya, tugas masak memasak dilakukan oleh para lelaki. Persiapan bahan pun dihandle oleh kelompok laki-laki.

Kerjasama kelompok sayur nangka

Kerjasama kelompok sayur nangka

Kelompok ares

Kelompok ares

Mereka memasak dengan panci-panci berukuran besar di atas tungku kayu. Perempuan bertugas sebagai pengisi dulang dan pengatur awon-awon (oleh-oleh berisi makanan dari tuan rumah) sementara para muda dan paruh baya sebagai pengantar dulang. Ada satu ketua yang menjadi juru kunci, proses estafet dulang nantinya akan dipimpin olehnya. Ada juga yang bertugas sebagai PIC urusan tamu, mengarahkan posisi tamu agar tetap nyaman di tengah keramaian. Saya berpikir, kelompok masyarakat ini sepertinya sudah terbiasa menghandle proyek catering berskala besar.

Proses Memasak

Proses Memasak

That big!

That big!

Beberapa kali saya diingatkan oleh kerabat, “Hei, siap-siap ya. Nanti kamu nggak bakal bisa kemana-mana, dan pasti lelah sekali,” katanya. I said, no worries. Yang jelas ini bukan pengalaman begawe yang pertama, jadi saya nggak perlu khwatir berlebihan. Until it happened..

Saat musim nikah (di Lombok, umumnya setelah lebaran Idul Fitri atau Idul Adha), pemandangan seperti ini bakal sering sekali ditemui di kampung-kampung. Di kampung kami, desa Sengkol, dalam jarak harian, ada beberapa orang yang juga menggelar begawe merariq. Bisa dibayangkan segala kehebohan begawe ini berlangsung terus seperti tanpa jada. Hehehe, tapi serunya justru disitu.

Well, tulisan ini bersambung ke part-2 ya! Ini cuma ada di Lombok lho! Don’t miss it!

 

(Visited 347 times, 2 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Serunya Begawe Ala Suku Sasak Lombok' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool