Unik! Tradisi Ngaji Quran Desa Sesait Lombok Utara di Bulan Ramadhan

Unik! Tradisi Ngaji Quran Desa Sesait Lombok Utara di Bulan Ramadhan
5 (100%) 1 vote

Ramadhan selalu istimewa. Ada banyak hal yang hanya bisa ditemukan saat Ramadhan; suasana tarawih, tadarusan, berburu ta’jil dan makanan berbuka puasa, hunting persiapan lebaran, de-el-el. Banyaaak!

Di Pulau Lombok perpaduan antara ajaran islam dan adat cukup terasa dalam berbagai kegiatan, termasuk di bulan Ramadhan. Beberapa kelompok masyarakat adat di Lombok memang memiliki beberapa acara/ritual adat khusus yang belum banyak diketahui orang, bahkan oleh masyarakat Lombok sendiri. Utamanya adalah komunitas Watu Telu yang tersebar di bebrapa desa di Kabupaten Lombok Utara. Keberadaan komunitas ini ditandai dengan adanya masjid kuno di daerah tersebut yang merupakan bukti hadirnya Islam di awal penyebarannya di Pulau Lombok.

Salah satu yang paling terkenal adalah Masjid Kuno Bayan Beleq. Masjid ini diklaim sebagai masjid pertama dan tertua di Pulau Lombok. Salah seorang teman saya yang sudah melakukan riset dan mengunjungi setiap masjid kuno, menceritakan bahwa sebaran masjid lainnya berada di desa Loloan, Sukadana, Semokan, Salut, Sesait, Gumantar, Batu Bumbung dan Akar-akar. Semua desa tersebut berada di Kabupaten Lombok Utara.

Masjid Kuno Bayan Beleq Lombok Utara

Masjid Kuno Bayan Beleq Lombok Utara

Masjid-masjid tersebut tidak digunakan untuk ibadah sehari-hari (ibadah rutin), tetapi pada momen-momen tertentu saja, seperti lebaran adat. Di salah satu komunitas Watu Telu di Desa Sesait, masjid kuno digunakan pada acara adat Ngaji Quran.

lebaran adat di Masjid Kuno Bayan

lebaran adat di Masjid Kuno Bayan

Suasana di Masjid Kuno saat perayaan lebaran adat

Suasana di Masjid Kuno saat perayaan lebaran adat

Ngaji Quran disini sama dengan tadarusan. Namun peruntukannya lebih kepada pengingat kehidupan Islam masa lalu di Sesait, khususnya selama bulan Ramadhan. Al-Quran yang digunakan adalah Al-Quran yang ditulis tangan dan diperkirakan peninggalaan abad XV. Mushaf Al-Quran tersebut dijilid per juz sehingga jumlahnya menjadi 30 jilid. Alquran tua itu menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat adat Sesait sudah lama menerima Islam. Mengingat kondisi Al-Quran yang dikhawatirkan rusak, masyarakat adat Sesait kini menggunakan Alquran generasi kedua. Alquran cetak yang sampulnya dilapisi kulit Unta.

Ritual Ngaji Quran dimulai setelah para tokoh adat dan warga berkumpul di Kampu (kompleks perumahan tradisional), mereka selanjutnya berangkat ke Masjid Kuno yang jaraknya sekitar 300 meter dari Kampu. Alquran bersampul kulit Unta itu dibungkus kain putih dan ditaruh di atas baki. Membungkus Al-Quran dengan kain putih yang melambangkan kesucian adalah simbol penghormatan masyarakat adat Sesait kepada Al-Quran.

Di belakang pembawa Alquran, masyarakat, mulai dari orang tua dan anak-anak beriringan mengiring Alquran itu menuju Masjid Kuno. Tidak boleh mendahului. Termasuk juga tidak boleh masuk duluan ke dalam masjid Kuno. Alquran itu harus masuk terlebih dahulu, barulah masyarakat yang lainnya boleh masuk.

Al-Quran siap dibawa dari Kampu menuju Masjid Kuno Sesait

Al-Quran siap dibawa dari Kampu menuju Masjid Kuno Sesait

Setelah Alquran itu masuk ke dalam Masjid Kuno, Penghulu (tokoh adat) akan menjelaskan tentang ritual Ngaji Quran yang merupakan bagian dari ritual Ngaji Makam (ritual adat lain). Penghulu akan menceritakan bagaimana tradisi para orang tua dulu mengaji di Masjid Kuno Sesait sampai waktu sahur tiba. Dalam semalam 30 juz bisa dikhatamkan. Tentunya saat itu kondisi jamaahnya sangat ramai dan terpusat di satu masjid saja.
Saat ini Ngaji Quran hanya membaca juz 1 saja, kemudian membaca surat Yasin dan terakhir membaca surat-surat pendek pada juz 30.

Di sela-sela perpindahan bacaan, para wanita akan membawa dulang berisi makanan. Pada saat istirahat pertama, makanan yang dibawa es dan aneka kue. Setelah juz 1 selesai, mereka kembali membawa dulang berisi makanan ringan dan kopi. Barulah saat juz 30 berakhir, makanan terakhir datang berupa nasi dan aneka lauk. Membawa makanan dalam tiga gelombang ini pun ada maknanya. Kopi untuk penghilang kantuk, dan menu makanan berat terakhir sebagai penutup untuk sahur.

Pelaksanaan Ngaji Quran oleh penghulu desa Sesait Lombok Utara

Pelaksanaan Ngaji Quran oleh penghulu desa Sesait Lombok Utara

Ngaji Quran menjadi napak tilas mengingat tradisi tadarusan yang pernah dilakukan para leluhur masyarakat Sesait.

Lombok nggak cuma indah dengan pesona alamnya yang memikat, tradisi dan budaya pun mampu menarik wisatawan untuk datang ke Lombok. Yuk siapkan liburanmu ke Lombok!
Catatan: tulisan dibuat berdasarkan hasil ngobrol bersama teman jurnalis yang fotonya saya pakai di tulisan ini 🙂

(Visited 736 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Unik! Tradisi Ngaji Quran Desa Sesait Lombok Utara di Bulan Ramadhan' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool