Keindahan provinsi NTB memikat para wisatawan

Seru! Jalan-Jalan Singkat Menikmati Wisata Budaya Bima

Seru! Jalan-Jalan Singkat Menikmati Wisata Budaya Bima
Vote Us

Ezytraveler, Sudah sejauh mana jalan-jalan kamu ke provinsi NTB? Sudah pernah mengunjungi Sumbawa? Bima?

Meski masih berada dalam satu provinsi, tak sedikit dari kami, penghuni pulau Lombok ini, yang mungkin masih belum pernah berkunjung ke pulau seberang: Pulau Sumbawa. Lain Lombok, lain pula Sumbawa yang punya eksotismenya sendiri. Di pulau yang ukurannya jauh lebih besar dari pulau Lombok ini, ada 5 Kabupaten/Kota di dalamnya. Salah satunya adalah Kota Bima dan Kabupaten Bima.

Yuk, dibaca juga: Emas Hitam Sembalun Lombok

Pernah denger nama pantai Kalaki atau Pulau Ular? Keduanya ada di Bima. Kalaki dikenal dengan indahnya, sementara pulau Ular, meski ular-ularnya tak berbisa tapi tetap saja ngeri-ngeri sedap. Hehehe.. Di Sumbawa, ada Kenawa yang memikat hati. Pindah ke Dompu, ada pantai Lakey yang dikenal dengan ombak kidalnya. There’s no doubt. Tuhan memang menitipkan begitu banyak potensi alam di provinsi NTB tercinta.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi pulau Sumbawa. Bukan yang pertama, memang, tapi kali ini ada yang berbeda. Jika sebelumnya hanya sampai kabupaten Sumbawa, kali ini saya ke Bima. Jika lewat jalur darat untuk sampai ke Bima kita masih harus berkendara sekitar 6-7 jam dari Sumbawa setelah sebelumnya melewati perjalanan laut selama 2-3 jam.

Bandara Bima provinsi NTB

Mendarat di Bima! (In frame: Denis/fb: Bunda Nyayu)

Jika tak ingin berlama-lama di perjalanan, Ezytraveller bisa memilih jalur udara. Yes, cuma butuh waktu satu jam saja untuk sampai di Bima.

Perjalanan saya ke kota Bima memang bukan untuk tujuan berlibur. We went there for volunteery. Syukurnya, sampai disana, meski kondisi pasca bencana masih terbilang jauh dari normal, saudara-saudara kita di Bima punya semangat tinggi untuk segera bangkit dan berbenah diri.

Pemandangan hijau di Bima provinsi NTB

Green everywhere!

Ragam spot wisata dalam kota pun masih belum bisa dinikmati dengan maksimal. Padahal dulu-dulunya pengen banget nongki cantik sambil nunggu Sunset di pantai Amahami kota Bima. Belum lagi rencana mengunjungi beberapa situs budaya yang pasti menarik untuk dikulik lebih dalam. Well, that’s still on my list tho, for the next visit!

Setelah beberapa hari di Kota Bima, mengelilingi kampung-kampung terdampak banjir, dan berinteraksi langsung dengan warga sekitar, akhirnya, di hari terakhir, kami berkesempatan jalan-jalan cukup jauh sampai ke daerah Kabupaten.

Sosial masyarakat di Bima provinsi NTB sangat menarik untuk dikaji

Jalanan kampung

Awalnya kami hanya berniat cari oleh-oleh: susu kuda liar dan tenun Bima. Alhasil setelah ngobrol panjang lebar, dan becerita tentang interest kami (saya dan suami), salah seorang relawan mengusulkan untuk mengajak kami jalan-jalan ke kampung Donggo. Kampung dimana orang asli Bima berasal, Bimanya Bima. Menurut guide spesial kami itu, jika ingin melihat karakter, kearifan, Bima yang sesungguhnya, maka, Donggo adalah tempatnya. Kami–terutama pasangan saya–yang memang hobi wisata budaya langsung mengiyakan ajakan tersebut. Apalagi tujuan kami adalah rumah Bapak Mertua guide yang notabene adalah tokoh adat Donggo. Kurang keren apa coba? Hehe..
Di postingan kali ini, saya belum akan bercerita banyak seputar Donggo. Apalagi mengingat keunikan kampung tersebut yang layak untuk ditulis dalam serial postingan. Ada dongeng Lahilla, Putri cantik Donggo yang menghilang dalam semak bambu, cerita tentang kaki-tangan raja, hukum adat yang masih berlaku di Donggo..etc..etc. Banyak dan sungguh menarik untuk diceritakan!

My first statement of impression was, “Bima keren dan kaya budaya! Where have I been?” Masih di satu provinsi NTB, tapi dengan citarasa berbeda. Nggak nyangka kalau di pulau yang sering diibaratkan sebagai negeri lima matahari–karena terik matahari yang keras menyengat!–ternyata ada bagian, kawasan puncak hijau, dengan pemandangan yang super keren!

Salah satu oleh oleh khas NTB susu kuda liar

Kuda liar yang sedang masuk kandang..hihi

Tujuan pertama kami adalah mencari susu kuda liar. Di Bima daerah penghasil susu kuda liar tersebar di beberapa kecamatan, termasuk kecamatan Donggo (tapi kali ini saya lupa nama desa/dusun yang kami kunjungi. Yang pastinya masih di Donggo! Hehehe). Saya berkesempatan menyaksikan proses perah dan meminum langsung susu segar dari kuda liar. Aweeeee! Rasanya sedikit masam. Ezytraveler harus mencoba sendiri untuk menemukan sensasinya! Satu botol 600 ml susu kuda liar dihargai Rp.50.000. Bandrolnya murah Karena guide kami adalah pelanggan tetap di tempat tersebut. Harga bisa jadi berbeda lho! Ini juga salah satu oleh-oleh khas provinsi NTB.

Provinsi NTB punya banyak kekhasan

Nyobain susu kuda liar fresh!

Dalam perjalanan kami juga melewati kuburan di pinggir jalan yang dikenal dengan nama pekuburan Rade. Di pemakaman ini, kuburan Muslim dan Kristen menyatu tanpa sekat, bahkan letaknya berdampingan tanpa ada kavling khusus. Ditambah dengan pemandangan bukit hijau dan sungai yang mengalir di bawahnya. Super keren! Masih menurut guide kami, Donggo dulunya adalah salah satu tempat penyebaran agama Kristen yang dibawa oleh seorang Romo. Wajar, kami menemukan (jika tidak salah ingat ada 2 gereja) gereja lawas dalam perjalanan kami. Ini menunjukkan bahwa toleransi beragama di provinsi NTB memang sudah dalam praktik yang memasyarakat tanpa harus dijejali banyak teori.

Bukti toleransi di Bima provinsi NTB

Bukti toleransi umat beragama di Bima

Banyak spot menarik di Bima provinsi NTB

Pemandangan cantik!

Sayangnya, kami tdak banyak mengambil foto di perjalanan. Mungkin karena terlampau takjub, hehe..sembari mengejar waktu untuk segera sampai di rumah tokoh adat. Mengingat waktu jalan-jalan kami hanya beberapa jam. Saya sendiri seperti merasa di kawasan Sembalun Lombok versi Bima. Ada deretan rumah yang dari jauh terlihat membentuk pola aliran sungai dengan atap warna-warni, padi yang ditanam di lekuk tebing, bukit-bukit cantik dengan savana hijau dan pohon-pohon tinggi, kawasan persawahan yang pematangnya diberi batu. This is super cool!

Uniknya persawahan di Bima provinsi NTB

Pematang sawah dengan batu sebagai pembatas

Kami sampai di tujuan utama tepat saat kumandang Maghrib. Sebelumnya kami sempat mampir di Pesanggrahan, tempat istirahat para raja zaman dahulu, yang kini alih fungsi sebagai gedung pertemuan. Oya, di Donggo kita masih banyak menemukan rumah panggung khas Bima dengan desain dan fungsi ruang yang unik.

 

Kesultanan Bima adalah sejarah unik provinsi NTB

Tempat peristirahatan raja zaman dahulu kala

Tempat peristirahatan raja bima provinsi NTB

Pesanggrahan

Hasil obrolan kami dengan tetua Adat rasanya wajib dibalas dengan kunjungan kedua yang lebih nyantai dan jalan-jalan serius ke berbagai tempat unik bersejarah yang disebutkan. Last word dari saya: buat Ezytraveler yang suka wisata sejarah dan sosial budaya sambil menikmati keindahan alam, ya wajib kesini! Ke Donggo, ke Bima! Feel free to let me know if you plan to come, we’ll suggest you the best guide ever! Untuk urusan ticketing dan lainnya, via Ezytravel aja. Kita tunggu ya!

Mau jalan-jalan? Temukan berbagai pilihannya di sini: Tiket Pesawat, Paket Tour Murah & Hotel di Lombok

 

(Visited 169 times, 1 visits today)


About

Traveling is a personal way to find yourself. Get lost, and expand your horizon!


'Seru! Jalan-Jalan Singkat Menikmati Wisata Budaya Bima' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloLombokku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool